Gowa.metro-pendidikan.com. Siswa Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) Kota Palopo sukses mencuri perhatian publik lewat penampilan seni Tari Wayatra Tanah Luwu. Mereka tampil memukau dan berhasil menghipnotis ratusan penonton yang memadati lokasi pertunjukan di ajang Kemah Pramuka Madrasah Provinsi (KPMP) 2026 di Bumi Perkemahan Cadika, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.
Kegiatan tersebut digelar dalam rangka Lomba Tari Nusantara pada perhelatan Kemah Pramuka Madrasah Provinsi (KPMP) 2026 yang berlangsung sejak tanggal 2 hingga 5 September 2026.
Gemulai gerakan para penari yang berpadu selaras dengan tabuhan musik gendang khas daerah langsung disambut riuh tepuk tangan bergemuruh dari seluruh penonton sejak awal pementasan.
Atmosfer pertunjukan semakin hidup dan bergelora saat tarian menyatu dengan irama, berpadu apik dengan pembacaan naskah sastra serta lantunan nyanyian yang dibawakan secara syahdu oleh Muhammad Abis Arbi Arsyad dan Dzakira Lutfiah Ramadhani.
Dalam penampilan mereka, bait-bait sastra yang dibacakan begitu menyentuh hati penonton: “Palopo di bawah naungan gunung Latimojong yang tenang menyimpan kisah para pemenang, tanah pusaka tempat Sawerigading melangkah mengukir peradaban dalam bait-bait sejarah.
Palopo berdiri manis di pesisir pantai, masjid Jami Tua menjadi saksi tentang iman dan tradisi, jernihnya air Latupa hingga harumnya Kapurung yang selalu memanggilnya untuk Pulang.”
Tari Wayatra Tanah Luwu sendiri merupakan sebuah karya seni kreasi baru yang merefleksikan keharmonisan dan falsafah hidup masyarakat Kota Palopo. Alur tarian ini menggambarkan dinamika keseharian warga Luwu, mulai dari simbol ketangguhan mengolah pangan lokal seperti memanen pohon sagu dan pisang untuk hidangan tradisional kapurung, hingga potret keceriaan masa kecil melalui permainan tradisional lompat tali dan batok kelapa.
Tidak hanya mengandalkan estetika gerak, pementasan ini juga sarat akan makna mendalam. Para penari bergerak secara dinamis membentuk formasi filosofis yang menyerupai aksara Lontara.
Penampilan epik ini kemudian ditutup secara megah melalui visualisasi gerak Sorganalino (Surga Dunia), sebuah pesan simbolis mengenai kedamaian abadi yang senantiasa dijaga dan dirindukan oleh masyarakat di mana pun mereka berada.
Aksi panggung yang memikat ini lahir dari kerja keras dan penghayatan mendalam para penari utamanya, yaitu Andi Rika Kirana Lestari, Fadia Lesmana Putri, dan Najwa Dwi Ramadhani.
Sukses siswa MTs Negeri Palopo di ajang tahunan tersebut, tidak lepas dari tangan dingin Ahmad Jefri, S.Pd. dan Julaeda, S.Pd., Gr. selaku pembina yang sukses meramu kolaborasi gerak, musik dan sastra menjadi satu kesatuan yang utuh hingga mengharumkan nama MTsN Kota Palopo di tingkat provinsi. ***
Laporan : M Nur AN






