Kepala Kemenag Makassar Ajak Bangun Kerukunan dari Lingkungan Terkecil, Beda Iman Tetap Bersatu

Makassar.metro-pendidikan.com. Atensi membangun kerukunan umat beragama dari lingkungan terkecil, tepatnya pada akar rumput mulai disosialisasikan. Kantor Kementerian Agama Kota Makassar sendiri menyambut positif wacana krusial tersebut, bahkan berharap menjadi program prioritas oleh Pemerintah Kota Makassar dan percontohan di Sulawesi Selatan.

Harapan itu terkuak dalam dialog komunikatif bertajuk “Membangun Kerukunan Umat Beragama pada Masyarakat Lorong”, pemerintah bersama tokoh agama dan masyarakat mengajak warga menjadikan keberagaman sebagai kekuatan untuk memperkokoh persaudaraan.

Kegiatan yang merupakan usulan Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Kelurahan Pisang Utara, Kecamatan Ujung Pandang, tersebut digelar di Aula Makassar Government Center, Kamis (3/9/2026) kemarin.

Mengusung tema “Satu Lorong Satu Keluarga, Beda Iman Tetap Bersaudara”, dialog ini dihadiri Kabag Kesbangpol Kota Makassar Fatur Rahim, Kepala Kementerian Agama Kota Makassar Dr H. Muhammad, M.Pd sebagai narasumber, Kepala Bidang Ketahanan Ekonomi, Sosial, Agama dan Organisasi Kemasyarakatan Kesbangpol Kota Makassar, Haidir, unsur Bhabinkamtibmas, Babinsa, tokoh masyarakat serta puluhan warga Kelurahan Pisang Utara.

Dalam materinya, H. Muhammad menyampaikan pentingnya menjaga dan memperkuat budaya toleransi yang telah tumbuh dinamis dalam kehidupan masyarakat Kota Makassar.

“Capaian Kota Makassar sebagai salah satu kota besar yang memiliki tingkat toleransi baik harus menjadi motivasi seluruh elemen masyarakat untuk terus menjaga konsistensi kerukunan lebih kondusif’, ujar doktor jebolan UMI pada konsentrasi Manajemen Pendidikan 2022 lalu.

Keberhasilan tersebut, lanjut H. Muhammad, tidak terlepas dari kolaborasi tiga pilar utama, yakni pemerintah melalui kebijakan yang inklusif, birokrasi melalui pelaksanaan program yang konsisten serta masyarakat yang terus menjaga nilai-nilai toleransi.

“Ini adalah hasil kerja bersama. Tugas kita ke depan adalah menjaga konsistensi. Kerukunan tidak boleh hanya menjadi slogan, tetapi harus hadir dalam kehidupan sehari-hari,” tandas Ketua Umum BPC IKA Fakultas Ushuluddin & Filsafat UIN Alauddin Makassar ini.

Dia juga menekankan pentingnya membangun ruang perjumpaan dan dialog lintas iman, termasuk melalui kegiatan doa bersama lintas agama, kunjungan ke rumah ibadah, serta dialog di ruang publik.

Tidak hanya itu, bahkan H. Muhammad mengajak masyarakat untuk membangun kerukunan mulai dari lingkungan terkecil, termasuk keluarga, rumah ibadah dan lorong tempat masyarakat menjalani kehidupan sehari-hari.

Menurutnya, kehidupan harmonis tidak hanya berbicara tentang hubungan antar umat beragama, tetapi juga mencakup hubungan manusia dengan sesama, lingkungan dan Tuhan.

“Pada dasarnya kita semua adalah manusia. Perbedaan agama, suku, dan budaya tidak boleh menjadi alasan untuk saling menjauh. Kita harus tetap hidup rukun, harmonis, serta bersama-sama mendukung pembangunan Kota Makassar,” jelas mantan Kepala Kemenag Kabupaten Tana Toraja, Takalar dan Maros ini.

Ia juga menjelaskan pentingnya penguatan Trilogi Kerukunan, yang terdiri atas tiga dimensi utama.
Pertama, kerukunan dengan Tuhan, yakni membangun hubungan spiritual yang tulus dan menjadikan nilai-nilai keagamaan sebagai pedoman dalam kehidupan.

Kedua, kerukunan dengan sesama manusia, yang diwujudkan melalui toleransi, empati, saling menghormati, dan komitmen terhadap keadilan.

Ketiga, kerukunan dengan alam, yakni kesadaran bahwa lingkungan merupakan amanah yang harus dijaga bersama.

“Pluralitas agama, budaya, dan etnis bukan ancaman, melainkan rahmat yang memperkaya kehidupan bersama. Kita juga harus mencintai lingkungan karena manusia dan alam sama-sama merupakan ciptaan Tuhan,” tutur H. Muhammad.

Ia menambahkan, manusia memiliki tanggung jawab untuk menjaga alam dan tidak melakukan eksploitasi berlebihan yang dapat menimbulkan kerusakan lingkungan.

Dalam kesempatan tersebut, H. Muhammad juga memaparkan program Kelurahan Sadar Kerukunan, sebuah program percontohan berbasis masyarakat yang diluncurkan pada 2026 bulan kemarin sebagai upaya memperkuat kerukunan dari tingkat akar rumput.

Program ini mendorong keterlibatan aktif tokoh agama, tokoh masyarakat, pemuda lintas agama, serta perempuan dalam membangun kehidupan sosial yang harmonis.

Salah satu prinsip utama program tersebut adalah menyelesaikan berbagai persoalan yang muncul di tengah masyarakat secara bersama-sama melalui komunikasi dan musyawarah.

“Program ini bertujuan untuk mencegah konflik sejak dini, bukan setelah konflik terjadi,” jelasnya.

Sementara itu Haidir dalam sambutannya menegaskan bahwa dialog menjadi ruang penting bagi masyarakat untuk saling berbagi pengetahuan dan pengalaman, khususnya dalam kehidupan beragama yang harmonis.

“Semoga kegiatan ini dapat menjadi ruang untuk berbagi ilmu dan pengalaman dalam kehidupan beragama demi terciptanya kerukunan dan harmoni di Kota Makassar,” ujar Haidir.

Melalui dialog komunikatif ini, masyarakat Kelurahan Pisang Utara diharapkan semakin memahami bahwa kerukunan merupakan tanggung jawab bersama.

Semangat “Satu Lorong Satu Keluarga, Beda Iman Tetap Bersaudara” diharapkan tidak hanya menjadi tema kegiatan, tetapi dapat diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari sebagai kekuatan untuk menjaga Makassar tetap aman, damai, inklusif, dan harmonis. **ril/ka***

Laporan : Darwis Jamal

Pos terkait