Dihadapan Ormas Kepemudaan Lintas Agama Sulsel, Kepala Kemenag Maros Sampaikan Tausiyah Kerukunan & Ajak Menahan Ego

Makassar.metro-pendidikan.com. Berkelas, totalitas dan inspiratif itulah tausiyah (ceramah) kerukunan beragama disampaikan Kepala Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Maros, Dr H Muhammad, MM dalam acara silaturrahmi dan buka puasa bersama ormas kepemudaan lintas agama Provinsi Sulawesi Selatan. Hajatan solidaritas ini berlangsung di Aula Keuskupan Agung Makassar, Sabtu (15/3/2025).

Pada momentum itu, H Muhammad menegaskan pentingnya menahan ego pribadi dan sebaliknya mengutamakan solidaritas bersama. Demi, hidup rukun dalam bingkai kebangsaan.

‎“Tujuan hampir semua agama, menjadikan orang baik yang dekat dengan Tuhan. Dalam bahasa Islam takwa, menahan diri,” ujar mantan Kepala Kemenag Kabupaten Tana Toraja ini.

Tidak hanya itu, lanjut dia melihat
kehidupan keagamaan di Toraja, itu saling menahan. Menahan ego. Ego untuk meng kapling bahwa hanya mereka yang masuk surga.

‎Menyambungkannya dengan deklarasi Istiqlal Jakarta tentang prinsip-prinsip kemanusiaan, bagi H Muhammad, itu yang hidup bersama dengan semesta.

‎“Saya tidak pernah memanggil saudara yang beragama Katolik, Kristen, Budha itu dengan non-Muslim, karena saya anggap itu diskriminatif. Kapling mayoritas-minoritas ini selalu kita hidup-hidupkan, padahal kita sama. Hidup bersama-sama di tanah air NKRI. Makanya, ego ini harus menjadi perhatian kita bersama,” tandas doktor jebolan Manajemen Pendidikan Islam UMI Makassar 2022 lalu.

Dalam pandangan Ketua Umum IKA Fakultas Ushuluddin dan Filsafat (FUF) UIN Alauddin Makassar, hadirnya saudara umat Islam di tempat ini, umat Katolik memberikan kita contoh bahwa dalam beragama tidak boleh ada ego.

Dicontohkan, ‎bagaimana kehidupan keagamaan di Kabupaten Maros. Dia berkata, “ketika saya di Maros, saya inisiasi pasang papan nama gereja Katolik, karena kita di sini kita sama”, ucapnya diplomatis.

‎Melalui momentum puasa, H Muhammad menyatakan, umat Islam dituntut bisa menahan ego. Lapar, haus itu hal dasar, tapi tingkatan yang di atas adalah bagaimana menahan ego ini. Itulah yang disebut takwa.

‎“Berarti juga rendah hati. Ketika kita betul-betul memikirkan apa yang diberikan Tuhan dalam kehidupan, maka ketika menahan lapar, haus, menahan ego, solidaritas itu akan terbangun. Solidaritas bersama,” tambah mantan Kepala Kemenag Takalar ini.

Dia juga memuji sekaligus menyampaikan apresiasi bahwa ‎pertemuan kita kali ini dihadapan saudara dari jamaah Keuskupan Agung Makassar dalam rangka silaturahim ormas kepemudaan lintas agama Sulawesi Selatan merupakan sesuatu yang luar biasa untuk meneduhkan keberagaman dan menguatkan moderasi beragama dalam bingkai kebangsaan.

“Saya Kepala Kementerian Agama Kabupaten Maros mendukung program Bapak Menteri Agama RI, Bapak Kepala Kemenag Sulsel mendukung agar solidaritas dapat terbangun dalam kehidupan kita bersama,” pungkasnya.

‎Sebelumnya, Pastor Albert Arina, juga menyampaikan deklarasi Istiqlal merupakan tonggak penting menjaga kerukunan hidup bersama.
‎“Kegiatan ini merupakan tanda ikatan bahwa kita sesama makhluk ciptaan Tuhan. Di puasa ini kita perbanyak silaturrahmi. Perjalanan sebagai bangsa perlu dijaga dan dirawat. Mari sama-sama berkolaborasi.”ungkapnya.

‎Pimpinan FKUB Sulsel, Dr Nurman Said, di forum ini menyampaikan, peran penting tokoh agama dan pemuda sebagai penopang sekaligus perekat kehidupan berbangsa.

‎“Bahwa sesungguhnya agama memiliki solusi, pemandu umat menjalani kehidupan dengan baik. Di sinilah peran tokoh agama dan organisasi kepemudaan lintas agama.”tambah dosen Pascasarjana UIN Alauddin Makassar ini.

‎Sementara itu, Kabag TU Kanwil Kemenag Sulsel H. Aminuddin, menyampaikan asta program prioritas Kemenag, di antaranya cinta. Cinta adalah ajaran universal semua agama. Dan kalau umat dekat dengan ajaran agamanya masing-masing, maka kerukunan akan tercipta.

‎Sedangkan Uskup Agung Keuskupan Agung Makassar Pastor Fransiskus Nipa, mengungkap pentingnya terus menggaungkan deklarasi Istiqlal. “Perlu terus sosialisasikan deklarasi Istiqlal, bahkan sampai ke akar rumput, baik dalam negeri maupun luar negeri.”ujarnya.

‎Dalam kegiatan tersebut, selain silaturrahmi pimpinan organisasi lintas agama juga diberikan kesempatan memberikan pandangan tentang deklarasi Istiqlal. Dan sesaat sebelum buka puasa bersama, beberapa warga sekitar keuskupan juga diundang hadir dan diberikan santunan.

‎Hadir dalam acara, pimpinan organisasi pemuda lintas agama, di antaranya PW GP Ansor Sulsel dan lembaga swadaya masyarakat serta awak media.**hms**

Laporan : Darwis Jamal

Pos terkait