Gowa.metro-pendidikan.com. Bisnis sewa atau kontrak rumah kost di Desa Panciro, Kecamatan Bajeng amat menjanjikan bagi pelaku usaha tersebut. Tak heran, kalau rumah kost di desa ini menjamur dan syurga bagi pendatang. Selain tarifnya relatif terjangkau, juga segi fasilitas kelihatan lengkap untuk kapasitas satu orang dan satu keluarga kecil.
Hasil penelusuran media ini di lapangan terhadap rumah kost di empat dusun, Desa Panciro. Dusun Kampung Parang terdapat 11 rumah kost, Dusun Mattirobaji 4 rumah kost, Dusun Bontoramba 5 rumah kost dan Bontoramba Selatan 6 rumah kost.
Beragam ukuran, kapasitas dan jumlah kamar dalam setiap unit bangunan rumah kost tersebut. Ada sejumlah bangunan kost dengan puluhan kamar yang pemiliknya hanya satu orang, ada juga satu bangunan tunggal dengan jumlah 4 sampai 6 kamar kost dihuni oleh beberapa jiwa (1 keluarga).
Bahkan, ada sebagian warga setempat juga menyulap rumah miliknya menjadi beberapa kamar kost berlaku satu orang dengan sewa relatif murah.
Secara umum penghuni rumah kost di empat dusun meliputi buruh harian, penjual dan karyawan swasta. Apalagi Desa Panciro dengan dinamika warga yang dipicu pasar subuh menjadi tempat transaksi jual beli terbilang relatif cepat dan aman bagi pelaku usaha dari berbagai penjuru daerah Gowa dan sekitarnya, menjadi daya tarik oleh warga luar.
Belum lagi, sejumlah usaha gudang jagung (gaplek) pabrik roti dan usaha rumah tangga lainnya seperti pembuatan kue kering (kerupuk) dan jalan kote, juga mengharuskan sebagian karyawannya tinggal kontrak di Desa Panciro.
Termasuk sebagian karyawan dan pegawai Rumah Sakit Umum Thalia Irham Panciro lebih memilih tinggal tak jauh dari tempat kerjanya. Sebagian penghuni kost lainnya ada juga yang bekerja di Makassar, Takalar dan Sungguminasa.
“Saya senang kost di Panciro, selain aman, juga fasilitas rumah kost agak lumayan lengkap serta harga dapat terjangkau”, ujar Imam Khalimin (22) Karyawan Trans Studio Makassar yang ditemui media ini di rumah kostnya, Dusun Mattirobaji, Desa Panciro baru saja ini.
Sejumlah penghuni kost dan sumber lain menyebutkan, kalau tarif rumah minimal Rp 500.000 dan maksimal Rp 1, 2 juta per bulan hampir setara di kota. “Saya memilih rumah kost yang lebih lengkap fasilitasnya, ada kamar tidur, ruang dapur/keluarga, kamar mandi/WC dan AC.serta penerangan”, ujar Andi Trimulinda
Sari (37), Karyawati Trans Studio Makassar sembari mengaku kost di Dusun Mattirobaji dengan tarif Rp 1, 1 juta per bulan.
Mesk rumah kost di Panciro syurga bagi warga pendatang, namun sejumlah pihak mendorong Pemerintah Desa Panciro melakukan identifikasi setiap rumah kost. “Dalam identifikasi rumah kost meliputi lokasi, siapa pemilik rumah kost, apa nama rumah kosnya, berapa jumlah kamar, siapa-siapa saja penghuninya lengkap identitas diri berupa KTP dan berapa lama mereka kost”, ujar sejumlah tokoh masyarakat Desa Panciro yang minta tidak disebutnya namanya dalam tempat terpisah.
Menurut mereka, upaya mengidentifikasi serta pendataan keberadaan rumah kost di Panciro oleh pemerintah desa untuk memastikan bahwa di rumah kost tersebut aman dari potensi negatif yang dikhawatirkan dapat menimbulkan citra buruk Desa Panciro. Misalnya, perjudian, narkoba, KDRT dan bawa paham yang diduga sesat sehingga dapat meresahkan warga setempat dan sekitar.
Komitmen Pemdes Panciro untuk memberi rasa aman bagi penghuni rumah kost, pemilik rumah kost dan warga sekitar telah dibahas di tingkat internal pemerintahan dihadiri sejumlah perangkat desa. Progres ini, diakui Pj Kades Panciro, Asram Suhendra, ST, M.Ap saat berlangsung pembahasan Daftar Usulan RKP pada Musrembang Desa Panciro Tahun Anggaran 2026, Kamis, 28/8/2025) di Kantor Desa Panciro.
Dihadapan peserta Musrembang, Asram Suhendra menegaskan, pihaknya segera menindaklanjuti usulan berbagai pihak terkait keberadaan rumah kost demi terciptanya Panciro aman serta skala besar mewujudkan Program Gowa Masannang.
Asram yang juga Bendahara KNPI Gowa berharap kepada para RT/RK terutama kepala dusun terus aktif memantau pergerakan dan deteksi dini setiap manusia yang keluar masuk di wilayah masing-masing serta responsif terhadap keberadaan rumah kost yang kian berkembang. **
Laporan : Darwis Jamal.






