Kemenag Maros Segera Kembangkan Madrasah Inklusi, ‘Pilot Projet’ Pembinaan Moderasi Beragama Di Sulsel

Maros-metro-pendidikan.com. Kementerian Agama Kabupaten Maros, satu diantara Kantor Kemenag di Sulawesi Selatan paling siap mengembangkan dan membina madrasah inklusi. Hal ini disampaikan Kepala Kemenag Maros, Dr H Muhammad, M. Ag pada Forum Seminar Nasional Penguatan Moderasi Beragama, di Hall Waterboom Maros, Sabtu (25/5/2024).

Kegiatan ilmiah yang diselenggarakan DPD PGMI Kabupaten Maros ini, selain dihadiri Kepala Kemenag Sulsel H Muhammad Tonang, S.Ag, M.Ag, juga hadir Kasubtim Kurikulum dan Evaluasi MA/MAK Direktorat KSKK Madrasah Kemenag RI, Dr. Zulkifli.

Menurut H Muhammad, di Maros akan segera dibuka madrasah inklusi, siapa tahu ada pejabat yang menginginkan anaknya di madrasah. Misalnya dia beragama lain, silakan diterima. ““Dengan catatan, tidak boleh memberikan pelajaran agama Islam kepada siswa yang beragama Kristen misalnya, tidak boleh diajarkan. Kalau pelajaran agamanya, ada penyuluh agama Kristen kami yang akan mengajar. Intinya, jangan ditolak, mereka harus diterima”, jelas mantan Kepala Kemenag Tana Toraja dan Takalar ini.

Malah Ketua Umum Badan Pengurus Cabang ((BPC) Ikatan Alumni Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Alauddin Makassar ini berjanji mengurai landasan akademik madrasah inklusi termasuk program prioritas Kemenag terkait moderasi beragama.

“Saya akan mengurai makna moderasi beragama. Bahwa negara ini, bukan hanya umat Islam perjuangkan tetapi ada juga andil penganut agama lain. Jadi dengan moderasi beragama menjadi teropong kepada kita untuk bisa menoleh ke belakang, bahwa kebangsaan kita dibangun dari berbagai latar belakang suku, agama, dan bahasa yang beragam. Ini harus kita harus terima, sehingga bisa hidup bersama”, ungkap alumni Jurusan Perbandingan Agama ini.

Pemikiran yang diungkapkan oleh H Muhammad di atas, bukan tanpa alasan. Selain, kapasitas keilmuan yang memadai dengan konsentrasi manajemen dan sumber daya manusia, ia juga punya segudang pengalaman birokrasi terutama saat menjabat Kepala Kemenag Tana Toraja, justru banyak berhubungan serta diskusi para tokoh agama lain datang dari luar negeri untuk berkunjung ke Tana Toraja.

Tidak hanya itu, lanjut mantan pejabat teras. Kemenag Kota Pare-Pare ini, saat masih di Tana Toraja berhasil membina para penyuluh agama terkait penguatan moderasi beragama. “Ada penyuluh agama saya di Tana Toraja aktif membina desa terkait moderasi beragama. Desa moderasi beragama itu, saya rencana akan tindaklanjuti melalui bentuk kerja sama dengan Pemkab Tana Toraja/Kemenag Tana Toraja bersama BPC IKA Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Alauddin Makassar’, demikian komitmen H Muhammad kepada wartawan Metro Pendidikan Nasional dalam.suatu kesempatan.

Sukses H Muhammad mendorong dan mensupport para penyuluh agama melakukan penguatan moderasi beragama selama kurang lebih dua tahun di Tana Toraja, kemudian berlanjut saat dimutasi ke Takalar sebagai Kepala Kemenag Takalar. Rupanya ia tetap intens dan fokus mendorong para penyuluh agama terhadap urgensi penguatan moderasi beragama.

Bahkan, sejumlah guru besar di jajaran DPC IKA Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Alauddin Makassar nilai, tepat sekali kalau Dr Muhammad dengan kapasitas sebagai Kepala Kemenag Maros segera membuka madrasah inklusi, sekaligus menjadi pilot projet penguatan moderasi beragama di Sulawesi Selatan.

Tekad besar H Muhammad untuk mengembangkan dan membuka madrasah inklusi dalam upaya membumikan moderasi beragama di Maros, selain sejalan dengan visi dan misi Bupati Maros sebagai daerah religius, juga sejalan harapan Kementerian Agama melalui Direktorat Pendidikan Madrasah telah bertekad mengembangkan pendidikan untuk anak berkebutuhan khusus (difabilitas). Atau ebih dikenal dengan pendidikan inklusi (kesetaraan dalam pembelajaran), muaranya adalah mewujudkan keadilan pendidikan untuk seluruh anak bangsa tanpa diskriminasi. **

Publizer : Darwis Jamal Takdir

Pos terkait