Jakarta.metro-pendidikan.com. Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara era Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, Ryaas Rasyid, mengakui bahwa dirinya tidak pernah mempercayai omongan Joko Widodo (Jokowi).
Awalnya Ryaas membahas mengenai kasus tudingan ijazah palsu Jokowi yang hingga sekarang tak kunjung rampung. Bahkan, Jokowi sendiri juga tidak mau menunjukkan ijazah aslinya kepada publik dan hanya bersedia menunjukan ijazah aslinya di ruang persidangan.
Permasalahan itu, justru semakin melebar hingga melibatkan banyak orang, padahal Bareskrim Polri telah menyatakan ijazah Jokowi asli berdasarkan uji forensik, kemudian menyerahkan kasus kepada Polda Metro Jaya dan kini telah naik tahap penyidikan karena ditemukan unsur pidana dalam perkara yang dilaporkan oleh Jokowi itu.
Namun, pihak-pihak yang melaporkan ijazah Jokowi palsu tidak terima dengan proses hukum yang ada dan sampai sekarang masih terus mempermasalahkannya.
Ditambah lagi, setelah Jokowi menyatakan ada tokoh besar di kasus ijazah palsu, pihak-pihak pelapor seperti Roy Suryo c.s. tidak terima, kemudian melayangkan somasi kepada Presiden RI ke-7 RI.
Sementara itu, pihak Jokowi diketahui sudah melaporkan 12 orang yang diduga menyebarkan informasi palsu dan mencemarkan nama baiknya melalui media sosial maupun kanal digital lainnya.
Menurut Ryaas, Jokowi lucu karena dia belum membuktikan keaslian ijazahnya, tetapi sudah menuntut orang yang dianggapnya menyebarkan fitnah.
“Jadi sekarang itu agak lucu. Dia belum buktikan keasliannya, dia sudah tuntut orang memfitnah dia, dilaporkan ke polisi, itu tidak bisa,” katanya, dikutip dari YouTube Abraham Samad SPEAK UP, Jumat (8/8/2025).
Menurut Ryaas, Jokowi harus menunjukan ijazah Universitas Gadjah Mada (UGM) miliknya terlebih dahulu agar bisa dipercaya publik bahwa itu benar-benar asli, baru bisa melaporkan sejumlah orang yang dianggapnya salah.
“Buktikan dulu bahwa ini (ijazah) asli dan itu semua teruji oleh UGM dan oleh polisi, baru dia mengatakan, ‘Saya difitnah oleh si bajingan ini, saya difitnah oleh ini, saya tuntut mereka’. Sekarang dia tidak tunjukkan, tapi dia menuduh orang memfitnah. Bagaimana dong?” ucap Ryaas.
Oleh sebab itu, Ryaas yang juga dikenal sebagai pengamat politik ini menganggap Jokowi memang tidak bisa berpikir jernih karena memang aslinya tidak sekolah sarjana atau S-1.
“Tapi ya bagaimana ya? Saya tuh susah kalau mikir soal Jokowi karena bolak-balik kesimpulan saya, memang dia tidak punya kapasitas untuk berpikir jernih, karena ndak sekolah,” ujarnya.
Alasan Ryaas mengatakan demikian karena dia mengaku sudah mengikuti perkembangan Jokowi selama 10 tahun kepemimpinannya sebagai Presiden RI.
Dari situ, Ryaas Rasyid mengamati bahwa Jokowi tidak pernah berbicara secara sistematis. Dengan dengan dasar itu pula, dia meragukan sikap kejujuran Jokowi.
“Saya mengikuti dia 10 tahun kan, mengikuti perkembangan dia 10 tahun itu, dia tidak pernah bicara sistematis, kalimat-kalimatnya itu putus. Coba periksa semua, jadi dia tuh ditanya, lain pertanyaan, lain jawaban,” katanya.
Presiden ke-7 Joko Widodo memberikan keterangan kepada wartawan di Gedung Bareskrim Mabes Polri, Jakarta, Selasa (20/5/2025) lalu. Joko Widodo memenuhi undangan Bareskrim Polri untuk memberikan klarifikasi terkait laporan soal ijazahnya. **tim**






