Gowa.metro-pendidikan.com. Penjabat (Pj) Kepala Desa Panciro Asram Suhendra, ST, M.Ap menyampaikan sambutan seragam Bupati Gowa Dr Hj Sitti Husniah Talenrang, SE, MM pada puncak pelaksanaan Shalat Idul Adha 10 Zulhijjah 1448 Hijriyah. Kegiatan ini berlangsung di Lapangan Desa Panciro, Kecamatan Bajeng, Rabu (27/5/2026).
Melalui tema nasional Idul Adha 1447 H/2026 M, “Spirit Qurban Merawat Alam dan Kemanusiaan”, Berikut ini, Hj Sitti Husniah Talenrang mengajak masyarakat Kabupaten Gowa teruma umat Islam agar memperkuat kebersamaan, ukhuwah Islamiyah dan persatuan. Idul Adha mengajarkan bahwa kekuatan bangsa dan daerah lahir dari persaudaraan, pengorbanan dan kepedulian terhadap sesama.
Hari Raya Idul Adha, bukan sekadar tentang penyembelihan hewan kurban, tapi juga bagaimana manusia mencintai Allah SWT di atas segala galanya lalu menghadirkan nilai cinta itu dalam bentuk kepedulian sosial, tanggung jawab dan pengabdian kepada masyarakat.
Momentum Idul Adha, juga mengingatkan pemerintah dan seluruh elemen masyarakat bahwa pembangunan sejati tidak hanya diukur dari pembangunan fisik, tapi juga dari kemampuan menghadirkan keadilan, ketenangan dan kesejahteraan bagi masyarakat luas.
“Islam sebagai agama rahmatan lil alamin mengajarkan keseimbangan antara ibadah kepada Allah dan kepedulian kepada sesama. Nilai infak, zakat, sedekah dan kurban menjadi bukti bahwa ketaqwaan harus menghadirkan manfaat sosial bagi umat”, demikian Sitti Husniah Talenrang dalam sambutannya.

Dihadapan sekitar lebih 4000 jamaah shalat Idul Adha, Pj Kades Panciro yang membacakan sambutan Bupati bahwa kisah Nabi Ibrahim AS, Nabi Ismail AS dan Siti Hajar adalah teladan besar tentang keimanan, kesabaran dan pengorbanan. Nabi Ibrahim AS mengajarkan amanah dan keteguhan dalam memimpin keluarga.
“Nilai ini menjadi pelajaran bahwa kepemimpinan harus dibangun di atas keteladanan dan keberpihakan kepada masyarakat”, ujar mantan Ketua Umum DPW PAN Sulsel ini.
Nabi Ismail AS mengajarkan kesabaran, kepatuhan dan keikhlasan. Nilai ini mengingatkan kita bahwa keberhasilan pembangunan membutuhkan kerja sama dan semangat gotong royong antara pemerintah dan masyarakat.
Sedangkan Siti Hajar mengajarkan kesabaran dan ikhtiar tanpa putus asa. Dari kisah mereka ini, sejatinya dapat diambil hikmah bahwa pemerintah dituntut hadir dengan memberi perhatian dan kepedulian kepada masyarakat kecil, kaum dhuafa, perempuan, anak-anak yang masih membutuhkan perhatian.
“Peristiwa kurban juga mengajarkan bahwa pengorbanan bukan hanya tentang harta, tetapi juga kemampuan menahan ego, menjaga persatuan dan mendahulukan kepentingan bersama”, ucapnya.
Seiring derasnya arus informasi saat ini, Siti Husniah Talenrang berharap menjaga lisan dan tulisan agar tidak menjadi penyebab fitnah, perpecahan dan keresahan di tengah masyarakat Islam mengajarkan kita untuk bertabayyun dan tidak mudah menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya.
Dia juga berharap, semoga Idul Adha tahun ini menghadirkan kesejukan (kedamaian) di hati, mempererat persaudaraan serta menjadikan Kabupaten Gowa semakin religius, damai, maju dan penuh keberkahan. Aamin Ya Rabbal ‘Alamin.
Selaku Pemerintah Kabupaten Gowa, saya menyampaikan apresiasi dan terima kasih seluruh pihak yang terlibat dalam rangkaian kegiatan pelaksanaan ibadah shalat Idul Adha 1447 Hijriyah. Mereka bekerja dengan penuh keikhlasan sehingga pelaksanaan shalat Idul Adha ini dapat berjalan tertib, aman dan khidmat.
Adapun khatib shalat Idul Adha adalah Syamsul Hadi, S.Pd.I (Kepala SMP Islam Pondok Pesantren As Sunnah Panciro) dan imam shalat Idul Adha Muhammad Awal Arafah.***
Laporan : Darwis Jamal






