Jakarta.metro-pendidikan.com. Suasana ruang rapat Komisi III DPR RI di Senayan, Jakarta berubah hening ketika Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kabupaten Gowa, Alumnus Zainudin menyampaikan pernyataan tegas soal ketimpangan hukum di Indonesia. Bahkan, sebagian besar anggota Komisi III tersebut dibuat terkesima oleh Alumnus yang juga anggota Paralegal Desa Panciro ini.
Seperti dikutif dari kabar destara.com Alumnus Zainudin ‘mengaung” dalam forum Rapat Dengar Pendapat (RDP) dan Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) yang digelar Rabu (17/9/2025). Bukan tanpa alasan, ia datang dari Makassar-Gowa dengan semangat rewako sebagai representasi suara rakyat kecil untuk menyuarakan keadilan.
“Kami datang bukan untuk kepentingan pribadi, tapi untuk menegakkan keadilan yang selama ini terabaikan,” ujar Alumnus dengan nada lantang, dalam rapat yang disiarkan langsung oleh TVR Parlemen.
Rapat tersebut turut dihadiri oleh sejumlah tokoh penting, termasuk Kepala Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara dan Sulawesi Selatan, Edward P. Limbong, Annar Sampetoding, serta keluarga ahli waris dari Djoddo. Namun perhatian publik justru tertuju pada pernyataan Alumnus yang menyoroti ketidakadilan dalam penegakan hukum.
“Kalau rakyat kecil berhadapan dengan hukum, prosesnya cepat. Tapi kalau yang besar, seolah-olah dilindungi. Ini tidak bisa terus dibiarkan,” tegasnya.
Alumnus menekankan bahwa Komisi III DPR RI memiliki tanggung jawab moral untuk mengawal kasus-kasus yang menyangkut kepentingan masyarakat. Ia mengingatkan bahwa lembaga legislatif bukan sekadar tempat formalitas, tetapi harus menjadi perpanjangan suara rakyat.
“Komisi III harus hadir sebagai penjaga keadilan. Jangan biarkan hukum hanya tajam ke bawah, tumpul ke atas,” ucapnya dengan nada lantang.
Pernyataan tersebut segera menyebar luas di media sosial. Potongan video Alumnus saat berbicara di forum DPR viral dan menuai pujian dari berbagai kalangan. Banyak warganet menyebutnya sebagai sosok pemuda yang berani menyuarakan kebenaran di tengah dominasi elit politik.
Di platform X (Twitter), sejumlah komentar menyebut Alumnus sebagai “wakil rakyat sejati” dan “corong suara masyarakat tertindas”. Tak sedikit pula yang berharap agar lebih banyak pemuda daerah tampil di forum nasional untuk menyuarakan keadilan.
Alumnus menegaskan bahwa dirinya hanya menyampaikan keresahan masyarakat. “Saya hanya pembawa suara. Suara yang saya bawa adalah suara rakyat. Jangan anggap enteng jeritan kami,” ucap mantan Direktur BUMDes Panciro ini.
Kehadirannya di Senayan menjadi simbol perlawanan terhadap ketidakadilan hukum yang masih dirasakan oleh banyak lapisan masyarakat. Di tengah forum formal, Alumnus berhasil mencuri perhatian dengan pernyataan yang tajam, lugas, dan tanpa kompromi. **dkw**
Laporan : Darwis Jamal






