Hadiri Ritual Adat Tahunan Maggawe Samampe, Andi Rahim Tekankan Pelestarian Sejarah dan Budaya Luwu

Luwu Utara.metro-pendidikan.com. Upaya dan komitmen dalam merawat eksistensi nilai sejarah dan budaya Tana Luwu, Bupati Luwu Utara, Andi Abdullah Rahim, menghadiri ritual adat tahunan “Maggawe Samampa” di Kompleks Makam Datuk Pattimang, Desa Pattimang, Kecamatan Malangke, Senin beberapa hari lalu.

Kehadiran orang nomor satu di Luwu Utara ini disambut antusias oleh warga. Ritual yang diselenggarakan oleh Lembaga Adat La Pattiware’ ini bukan sekadar seremoni, melainkan media yang menghubungkan nilai-nilai masa lalu dengan kehidupan masa kini.

Apalagi adat ritual “Maggawe Samampa” memiliki akar sejarah dan budaya yang sangat kuat, bermula sejak tahun 1603 M. Artinya, tradisi ini telah terjaga selama 423 tahun.

Dalam istilah Makkasiwiang atau Maseddi-seddi, sebuah tradisi menyambut Ramadan yang lahir seiring masuknya Islam di Tana Luwu melalui ulama asal Minangkabau, Dato’ Sulaiman (Datuk Pattimang).

Nama “Maggawe Samampa” sendiri mulai populer sejak 20 tahun terakhir. Namun, acara adat Manggae Samampa kali ini
berlangsung selama tiga hari berturut-turut, dengan hari ketiga sebagai puncak perayaan yang digelar meriah secara swadaya oleh masyarakat.

Dalam sambutannya, Bupati Andi Rahim menekankan bahwa warisan leluhur adalah kekuatan sosial bagi masyarakat Luwu Utara. Dia juga menegaskan bahwa adat dan agama tidak seharusnya dibenturkan, melainkan saling menguatkan, sehingga harus dilestarikan sebagai bagian dari kekayaan sejarah dan budaya Luwu.

“Dalam Islam, ada kebiasaan baik yang diambil dari tradisi masyarakat. Maggawe Samampa adalah bukti kekuatan silaturahmi warga dalam menyambut bulan suci Ramadan,” ujar alumnus Unhas tersebut.

Ia juga menambahkan bahwa kegiatan ini menjadi momentum untuk mengenang kejayaan Islam di Tana Luwu yang pengaruhnya meluas hingga ke Kalimantan dan negara tetangga.

Senada dengan Bupati, Maddika Bua, Andi Kaddiraja, yang hadir mewakili Istana Kedatuan Luwu, memberikan apresiasi tinggi atas kemandirian warga Desa Pattimang dalam menjaga tradisi ini.

“Ini sungguh luar biasa. Kegiatan ini lahir dari swadaya masyarakat, sesuatu yang jarang kita jumpai di daerah lain,” ungkap Andi Kaddiraja.

Rangkaian acara ditutup dengan ziarah ke Makam Datuk Pattimang dan Raja Luwu, La Pattiware’, untuk memanjatkan doa keselamatan.

Setelah itu, rombongan Bupati dan perangkat adat menuju Baruga untuk menikmati hidangan bersama ratusan warga yang telah memadati pelataran kompleks makam dalam suasana penuh kekeluargaan. **hms***

Laporan : Arifin Muha

Pos terkait