Gowa, metro-pendidikan.com. Membangun sumber daya manusia dan peradaban Islam yang dimulai dari masjid menjadi visi utama bagi Yayasan Bina Insan Cendikia-Lukmanul Hakim (YBIC-LH) Kabupaten Gowa kembali digaungkan oleh Ketua YBIC-LH, Drs H Wahid Hasyim Lukman, M.Si dihadapan santri Tahfidz Qur’an binaannya, Jum’at (10/5/2024) di Kampus Ponpes BIC-LH Kabupaten Gowa, Provinsi Sulawesi Selatan.
Mewujudkan harapan baru itu, menurut santri yang pernah mondok di Ponpes Gontor, Jawa Timur, bukan perkara sulit baginya dan juga bukan ‘proyek’ mimpi langsung menuai hasil begitu saja.
“Semua cita-cita mulia yang dibangun dengan nilai spirit Islam butuh proses perjuangan dan pengorbanan baik materi maupun jiwa. Termasuk merawat ketulusan, kesabaran, kepercayaan, kejujuran, etos kerja dan keteladanan menjadi bagian dari nilai untuk membangun SDM yang berakar kuat pada sumber tauhid dan akhlak Rasulullah SAW”, begitu pandangan dari alumni Jurusan Akidah Filsafat FU/FUF IAIN/UIN Alauddin Makassar saat ngobrol dan sharing dengan Pemimpin Redaksi Metro Pendidikan Nasional, Darwis Jamal Takdir di Kantor YBIC-LH Kabupaten Gowa.
Studi banding di Baitul Maal Pusat (BMP) Kurir Langit di Barru oleh Pengurus YBIC-LH Gowa baru saja ini, Wahid Hasyim mengaku, itu juga bagian dari upaya pihaknya untuk sharing pengalaman ilmu serta manajemen terkait pengelolaan pondok pesantren yang berorientasi pada penguatan nilai, lahirnya jiwa entrepreneur muslim dan merespon cepat peran teknologi informasi yang kini sudah menjadi bagian dari kebutuhan manusia.
Bagi mantan mantan Anggota KPU Kota Makassar ini, banyak hal bisa dipetik dari studi banding di Kurir Langit. Antara lain, lembaga tersebut memiliki tim media handal untuk membangun jejaring kepada warganet di media sosial.
‘Tim media Kurir Langit ini dikendalikan anak muda yang mahir dan menguasai teknologi informasi. Mereka punya jejaring yang luas dan bisa menggalang dana besar dari setiap warganet melalui media sosial dengan menawarkan program atau kegiatan lembaga yang menarik dalam bentuk sosial, edukasi, keagamaan dan kemanusiaan”, jelas mantan Ketua Umum Senat Mahasiswa Fakultas Ushuluddin, IAIN Alauddin Makassar ini.
Menariknya lagi, sambung dia, Kurir Langit bersama tim kreatornya, kini mampu mensuplai bantuan beras ke sejumlah Ponpes di Sulsel untuk kebutuhan makan warga pondok tersebut.
“Kurir Langit dengan prinsip tolong menolong lewat kegiatan sosial dan ekonomi Baitul Maal dapat menghidupi sesama ponpes. Luar biasa kerja tim media Kurir Langit yang benar-benar visioner,” tukas alumnus S2 Konsentrasi Komunikasi Politik Universitas Satria Makassar ini.
Meski begitu, lanjut Wahid Hasyim dirinya mencoba membentuk hal serupa, sehingga Ponpes BIC-LH Gowa ke depan diharapkan dapat memberi pengaruh besar terhadap pembangunan umat dan peradaban Islam akan datang.
“Santri tidak hanya mampu hafal Qur’an, hafal hadist Nabi SAW, menguasai fiqhi (hukum Islam), ilmu alquran, ilmu hadist, sejarah dan bahasa Arab.Tapi juga ilmu pengetahuan umum lainnya seperti pertanian, perkebunan, peternakan dan kewirausahaan serta Bahasa Inggris juga diajarkan di pondok tersebut”, ujar Wahid Hasyim sembari mengemukakan komitmennya.
Wahid Hasyim mengatakan, paling lambat satu tahun, pihak YBIC-LH Gowa sudah punya satuan pendidikan formal (madrasah) baik tingkat tsanawiyah maupun aliyah. Kini satuan pendidikan tersebut dalan proses pengusulan ke pihak terkait untuk mendapatkan izin operasional.
“Dalam waktu yang sama, kami fokus pada pembenahan sarana dan prasarana serta fasilitas pondok pesantren. Termasuk penataan sumber daya manusia khususnya tenaga pembina dan pemikir di pondok ini,” Wahid Hasyim yang juga nara sumber/pembicara nasional salah satu bisnis multi level di Sulsel ini.
Dua tahun terakhir ini, YBIC-LG Gowa aktif membina santri Tahfidz Qur’an berjumlaj 9 orang dibawah asuhan sejumlah ustad sekaligus pembina yakni Mohammad Naim, Syaiful Jihad, Muh. Mi’raj dan Rasta
Mereka adalah alumni beberapa Pondok Pesantren yang ada di Sulsel dan Sulbar. Kini mereka tercatat sebagai mahasiswa semester 4 Prodi Ilmu Al-quran dan Tafsir Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Alauddin Makassar.
Selain itu, pihaknya juga membina santri Taman Pendidikan Al-Quran (TPA) yang jumlahnya mencapai kurang lebih 50 orang. Mereka adalah anak warga setempat yang berada di sekitar areal Pondok Pesantren Bina Insan Cendikia Lukmanul Hakim (BIC-LH) Kabupaten Gowa. **
Laporan : Darwis Jamal Takdir






