Palopo.metro-pendidikan.com. Wacana penggabungan atau fusi antara Partai NasDem dan Partai Gerindra di tingkat nasional diprediksi akan ikut mengubah konstelasi politik di daerah, khususnya di Luwu Raya. Bahkan, menjadi “tsunami politik” bagi wilayah Tana Luwu yang kini menguasai sepertiga kursi di parlemen dari Dapil Luwu Raya.
Jika penggabungan kedua parpol tersebut, sebuah blok politik raksasa akan lahir dan mendominasi hampir seluruh lini legislatif di Kota Palopo, Kabupaten Luwu, Luwu Utara, dan Luwu Timur.
Berdasarkan data komposisi kursi DPRD hasil Pemilu terakhir, penyatuan kedua partai ini akan menghasilkan kekuatan kolektif sebanyak 37 kursi dari total 130 kursi yang tersedia di seluruh parlemen Luwu Raya. Artinya, entitas baru ini akan menguasai sekitar 28,5 persen hingga 36 persen suara di setiap daerah.
Kekuatan fusi ini tersebar secara strategis di empat wilayah administratif:
Kota Palopo: Menjadi daerah dengan persentase tertinggi, di mana koalisi ini menguasai 9 kursi (36%). Jumlah ini jauh melampaui syarat ambang batas pengusungan calon Wali Kota.
Kabupaten Luwu: Koalisi ini akan menjadi kekuatan absolut dengan 11 kursi (31%). Dengan angka ini, mereka praktis memegang kunci utama dalam penentuan kebijakan anggaran dan pembangunan di Bumi Sawerigading.
Kabupaten Luwu Timur: Di wilayah strategis pertambangan, fusi ini mengamankan 9 kursi (26%), yang memberikan daya tawar sangat kuat terhadap kontrol sumber daya alam dan investasi daerah.
Kabupaten Luwu Utara: Meski persentasenya berada di angka 23% (8 kursi), jumlah ini tetap menjadikan mereka sebagai poros utama yang mampu mengusung pasangan calon Bupati secara mandiri.
Mantan pejabat praktisi komunikasi yang juga jurnalis senior, Akhmad Baso, menilai bahwa birokrasi di Luwu Raya akan menunjukkan reaksi adaptif yang cepat.
“Birokrasi memiliki insting untuk segera menyelaraskan diri dengan kekuatan dominan. Hal ini bisa berdampak pada percepatan eksekusi program pemerintah karena minimnya gesekan antara eksekutif dan legislatif,” ungkapnya dalam sebuah diskusi internal redaksi.
Namun, dominasi mutlak ini juga memicu diskursus mengenai fungsi pengawasan. Dengan kontrol parlemen yang begitu besar di tangan satu entitas, peran media independen dan kontrol sosial masyarakat sipil akan menjadi variabel tunggal dalam menjaga transparansi di Tana Luwu.
Para pengamat menilai fusi ini sebagai langkah “checkmate” atau skakmat bagi partai-partai menengah di daerah. Mesin politik NasDem yang dikenal progresif di Sulawesi Selatan jika digabungkan dengan garis komando Gerindra yang tegas, akan menciptakan infrastruktur pemenangan yang sulit ditembus oleh kandidat dari poros lain.
Hingga saat ini, para pimpinan partai di tingkat daerah masih terus memantau dinamika di Jakarta sembari mulai melakukan konsolidasi informal di tingkat akar rumput untuk mempersiapkan diri menghadapi transisi besar ini. **ab***
Laporan : Arifin Muha






