Makassar.metro-pendidikan.com. Program Curriculum of Love (Kurikulum berbasis cinta kasih) yang dicanangkan oleh Menteri Agama RI Prof Dr KH Nasaruddin Umar, MA akan berlaku di setiap madrasah/satuan pendidikan menuai tanggapan positif dari berbagai elemen bangsa terutama institusi Kementerian Agama beserta jajaran serta organisasi keagamaan di tanah air.
Mereka menilai bahwa kurikulum yang berbasis cinta kasih itu bagian dari ajaran universal setiap agama. Hal ini juga diungkapkan Kepala Kementerian Agama Sulawesi Selatan, Dr H Ali Yafid, S.Ag, M.Pd.I saat dimintai tanggapannya oleh wartawan Metro Pendidikan terkait implementasi program kurikulum berbasis cinta kasih yang dicetuskan oleh Menteri Agama RI Prof Nasaruddin Umar, putra terbaik bangsa kelahiran Sulawesi Selatan ini.
H Ali Yafid yang menghadiri acara haul ke-4 almarhum KH Sanusi Baco, di Pondok Pesantren Nahdhatul Ulum Soreang bersama Kepala Kemenag Maros Dr H Muhammad, S.Ag, MM, Selasa 27 Mei 2025 menegaskan, sebetulnya penerapan nilai kurikulum berbasis cinta kasih sudah berjalan di setiap lembaga pendidikan formal terutama di madrasah dan pondok pesantren yang ada di negeri ini.
Apalagi substansi Kurikulum berbasis cinta kasih itu, katanya, telah terakomodasi-kan ke dalam tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri serta menjadi warga yang demokratis dan bertanggung jawab.
Terkait dengan tujuan itu, H Ali Yafid mengatakan bahwa program Menteri Agama RI mengenai kurikulum berbasis cinta kasih lebih pada penajaman ke dalam diri, kehidupan pendidikan, sosial, berbangsa dan bernegara yang memiliki semangat serta spirit penguatan moderasi beragama.
“Kurikulum berbasis cinta kasih bukan hanya sekedar menjadi ranah ilmu pengetahuan bagi peserta didik, tapi sifat kasih sayang benar-benar dapat membumi baik dalam pribadi peserta didik maupun dalam kehidupan sosial tanpa melihat perbedaan budaya dan latar belakang agama seseorang tapi melainkan alasan kemanusiaan,” ujar H Ali Yafid yang menyempatkan singgah di Kantor Kemenag Maros setelah menghadiri acara haul ke-4 sang ulama kharismatik Sulsel tersebut.
H Ali Yafid yang menyelesaikan pendidikan S1 di Fakultas Tarbiyah UIN Alauddin Makassar Jurusan Pendidikan Agama Islam 1995 lalu, berpendapat, semua agama di dunia ini mengajarkan prinsip dasar yang universal seperti kebersamaan, keadilan, cinta kasih sayang, hidup damai, kejujuran dan nilai kemanusiaan termasuk saling menghargai perbedaan pendapat.
Tidak hanya itu, lanjut putra kelahiran Kabupaten Bone 5 Januari 1971, setiap agama dapat mengajarkan cinta kasih kepada makhluk Tuhan lainnya seperti binatang dan tumbuh-tumbuhan. “Pohon atau tumbuh-tumbuhan tidak boleh seenaknya dirusak, harus kita rawat dan perlakukan dengan kasih sayang, makanya melestarikan dan merawat lingkungan dengan cinta, itu juga cerminan ajaran universal setiap agama terutama Islam,” tandas Ali H Yafid yang terangkat jadi guru PNS di Ambon (Maluku) sejak 1997 lalu.
Program Kemenag RI dalam hal aksi penanaman pohon matoa dalam rangka hari bumi pada 20 April 2025 alu, H Ali Yafid mengatakan, itu juga bagian dari ajaran setiap agama karena arahnya untuk membangun kesadaran ekateologis demi harmoni dengan lingkungan.
“Bukan hanya sesama manusia harus diperlakukan dengan kasih sayang, tapi juga kepada binatang dan tumbuh-tumbuhan harus mendapat perlakuan sama dari manusia itu sendiri. Inilah konteks ajaran Islam yang mengandung nilai rahmatan lil alamin,” ujar doktor jebolan UIN Alauddin Makassar yang humanis ini.
Menteri Agama Prof Nasaruddin Umar dalam suatu kunjungan di Sulsel tidak lama ini menegaskan bahwa kurikulum berbasis cinta kasih dimaksudkan lebih pada upaya penanaman nilai- nilai kebangsaan, toleransi dan penghargaan terhadap keragaman dalam sistem pendidikan nasional.
“Kebebasan beragama dijamin konstitusi, namun harus dijalankan dengan tanggung jawab dan menghormati hak orang lain. Inilah wujud moderasi beragama di Indonesia. Ini juga yang diharapkan dalam pelaksanaan program kurikulum berbasis cinta kasih yang berakar kuat pada nilai spiritual,” tambah Prof Nasaruddin Umar yang juga Imam Besar Masjid Al Istiqlal Jakarta, Indonesia. **
Laporan : Darwis Jamal






