Gowa, metro-pendidikan.com. Pondok pesantren (Ponpes) Kurir Langit, Kabupaten Barru, Provinsi Sulawesi Selatan terbilang baru. Namun, siapa sangka kalau ponpes tersebut yang diasuh oleh kaum muda dengan memanfaatkan media sosial untuk membangun jejaring, lobi dan interkoneksitas kepada warganet dalam menanam saham serta investasi amal jariyah untuk akhirat.
Begitu perspektif yang disampaikan Ketua Yayasan Bina Insan Cendikia- Lukmanul Hakim (YBIC-LH) Kabupaten Gowa, Drs H Wahid Hasyim Lukman, M.Si kepada wartawan Metro Pendidikan setelah melakukan studi banding di Ponpes Kurir Langit, Barru baru saja ini.
Alhasil, lanjut mantan Ketum Umum BPC IKA Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Alauddin Makassar ini, awalnya Ponpes Kurir Langit didirikan oleh empat anak muda yang mahir dan handal di bidang IT (Informatika dan Teknologi) dengan memanfaatkan media sosial untuk membangun jejaring dengan dunia luar melalui komunikasi sesama warganet.
“Para pemuda itu membuat program pesantren, kemudian dishare di media sosial disertai foto dan video kegiatan terkini. Rupanya, para warganet merespon positif bahkan spontan menawarkan diri jadi donatur. Mereka ada dari Malaysia dan Singapura dengan mentransfer uang yang jumlahnya tidak sedikit kepada pihak pihak Ponpes Kurir Langit”, cerita Wahid Hasyim Lukman didampingi istrinya Hj Nuridah Yusuf, S.Ag, di Kampus Ponpes Bina Insan Cendikia Lukmanul Hakim, Gowa, Kamis (2/5/2024) lalu.
Menurut Wahid Hasyim Lukman, para pemuda yang tergabung dalam pengurus Ponpes Kurir Langit itu, dapat melaporkan dan sekaligus mempertanggung jawabkan progres kegiatannya dalam bentuk foto dan video yang dishare lewat media sosial.
“Mereka benar-benar akuntabel, transparan dan terbuka terhadap penggunaan hasil donatur yang diperoleh dari para warganet. Luar biasa kreasi dari tim media Ponpes Kurir Langit dalam upaya menggalang dana lewat media sosial”, ujar Wahid yang juga mantan anggota KPU Makassar.
Para kreator tim media Ponpes Kurir Langi, sebut Wahid Hasyim , selain bekerja secara total, juga dilandasi niat tulus dalam menghadirkan keberkahan setiap kegiatan yang dilakukannya sebagai manifestasi ibadah kepada Allah SWT.
Wahid Hasyim mengungkapkan, kini Ponpes Kurir Langit berhasil mensuplai bahan pokok makanan berupa beras di sejumlah pondok pesantren di Sulawesi Selatan termasuk di Ponpes Bina Insan Cendikia Lukmanul Hakim Gowa juga dapat suplai beras dari Kurilangi. Suplai beras itu adalah hasil bantuan dari para donatur lewat jejaring dalam media sosial, kemudian dananya langsung masuk ke rekening Ponpes Kurir Langit untuk dimanfaatkan bagi kemaslahatan umat.
“Itu progres kerja tim media yang saya dapatkan dari studi banding di Kurir Langit. Kerja kerja cerdas dan tim media handal ini, juga rencana akan diterapkan di pondok pesantren yang saya kelola ini. Kini fokus dulu penyediaan sumber daya manusia dan sarana lain terutama asrama, ruang belajar dan masjid”, ujarnya sembari mengemukakan komitmennya.
Salah satu komitmen alumni Ponpes Gontor ini, ingin menjadikan masjid dalam ponpes sebagai lahirnya peradaban Islam di masa mendatang, menjadi ruang sumber beragam ilmu pengetahuan yang berakar kuat pada nilai-nilai tauhid serta penguatan informasi dan teknologi dalam bingkai spirit Islam.
Tidak hanya itu, dia juga akan mengubah stigma lama melalui paradigma baru berpikir bahwa sudah saatnya membangun pesantren yang berorientasi humanis serta berbasis masyarakat. “Siapa pun yang masuk dalam lokasi pesantren, terasa nyaman, sejuk dan merasa bagian dari keluarga besar pesantren tersebut”, ucap mantan Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Ushuluddin dan Filsafat periode 1992-1993.
Laporan : Darwis Jamal Takdir






