Prof Nilawati Uly Tulus Bangun Perguruan Tinggi di Kota Palopo, Kini Hasilkan Sejumlah Prestasi Prestisius

Palopo.metro-pendidikan.com. Dibalik gemerlap lampu Auditorium Universitas Ciputra Makassar akhir pekan lalu, seorang wanita tampak tenang saat namanya berulang kali dipanggil ke atas panggung. Prof. Dr. Hj. Nilawati Uly, S.Si., Apt., M.Kes., CIPA.

Rektor Universitas Mega Buana (UMB) Palopo, baru saja mencatatkan sejarah personal: menerima penghargaan sebagai Pimpinan Perguruan Tinggi Berprestasi untuk keempat kalinya secara berturut-turut.

Namun, bagi Prof. Nila—begitu ia akrab disapa—lima trofi yang diboyongnya malam itu bukan sekadar pajangan lemari kaca.

Ada cerita tentang kegigihan seorang pendidik yang ingin membuktikan bahwa kualitas pendidikan kelas wahid tidak harus selalu berpusat di ibu kota provinsi.

Salah satu pencapaian yang paling menyentuh dari penghargaan kali ini adalah apresiasi atas keberaniannya membuka Program Doktoral (S3) Kesehatan Masyarakat dan Spesialis Kedokteran Gigi.
ini adalah program pertama dan satu-satunya yang hadir di luar Kota Makassar untuk wilayah tersebut.

Bagi Prof. Nila, ini bukan soal gengsi kampus, melainkan tentang akses. Ia ingin anak-anak daerah di sekitar Luwu Raya tidak perlu merantau terlalu jauh atau mengeluarkan biaya selangit hanya untuk mengejar mimpi menjadi dokter spesialis atau doktor.

“Semoga penghargaan ini memberikan semangat dan inspirasi bagi kita semua untuk terus memberikan yang terbaik bagi pendidikan tinggi di Indonesia,” ujarnya dengan nada rendah hati.

Meski acaranya bertajuk “Anugerah LLDIKTI IX Tahun 2025”, esensi yang dibawa Prof. Nila lebih dalam dari itu. Di sela-sela kesibukannya memimpin, ia masih sempat menyumbangkan pemikiran lewat buku gagasan visioner yang diluncurkan pada acara yang sama.

Hal ini menunjukkan sosoknya yang tak pernah berhenti belajar (long-life learner).
Baginya, menjadi pemimpin bukan hanya soal memerintah, tapi soal memberi teladan bahwa inovasi harus terus berjalan, seiring dengan perubahan zaman yang kian cepat.

Kepala LLDIKTI Wilayah IX, Dr. Andi Lukman, menyebut bahwa trofi ini adalah “simbol ketulusan”. Kalimat ini sangat relevan menggambarkan sosok Prof. Nila.

Konsistensinya selama empat tahun terakhir membuktikan bahwa prestasi yang ia raih bukanlah kebetulan, melainkan hasil dari kerja keras yang berkelanjutan.

Ketika ia turun dari panggung, trofi di tangan mungkin terasa berat, namun beban tanggung jawab untuk terus mengabdi pada masyarakat itulah yang menjadi bahan bakar utamanya.

Universitas Mega Buana Palopo kini bukan lagi sekadar kampus di daerah; di bawah sentuhannya, ia telah menjadi mercusuar harapan bagi masa depan pendidikan di Indonesia Timur. **hf***

Laporan : Arifin Muha

Pos terkait