Palopo, metro-pendidikan.com — Kota Palopo hari ini sedang berdiri di persimpangan jalan yang kontradiktif. Di atas kertas dan podium pidato, kita mendengar narasi megah tentang Palopo sebagai Epicentrum layanan wilayah Luwu Raya dan gerbang strategis Teluk Bone.
Namun, begitu kaki melangkah ke sudut-sudut pemukiman dan pinggiran jalan protokol, hidung kita justru disambut oleh realitas yang menyengat: bau busuk dari tumpukan sampah yang tak kunjung teratasi.
Opini yang dilempar oleh Haidir Basir (HB) pada 26 Maret 2026 , bukan sekadar kritik musiman. Ini adalah potret “Paradoks Sampah” yang menelanjangi kegagalan sistemik di kota ini.
Pola Lama yang Usang
Selama ini, manajemen sampah kita terjebak dalam siklus primitif: Kumpul – Angkut – Buang. Pemerintah daerah seolah merasa tugasnya gugur setelah truk sampah berlalu. Padahal, tanpa sistem yang terintegrasi dari hulu (rumah tangga) hingga hilir (TPA yang modern), kita hanya sedang memindahkan masalah, bukan menyelesaikannya.
Kita harus jujur, pendekatan administratif yang “zona nyaman” ini sudah tidak memadai. Palopo butuh lompatan, bukan sekadar rutinitas.
Sistem vs Perilaku: Mana yang Lumpuh?
Menyalahkan pemerintahan ini dan sebelumnya karena adanya program TPS3R yang dibangun tidak berjalan sesuai harapan dan expektasi pemerintah pusat atau Menyalahkan masyarakat karena membuang sampah sembarangan adalah argumen yang paling mudah, tapi juga yang paling malas. Benar bahwa budaya memilah sampah di rumah tangga kita masih rendah. Namun, pertanyaannya: Apakah sistem sudah disiapkan untuk mendukung perubahan perilaku itu?
Bagaimana warga mau memilah jika pada akhirnya petugas pengangkut mencampurnya kembali di dalam truk? Bagaimana retribusi bisa transparan jika digitalisasi layanan masih sebatas wacana? Di sinilah orkestrasi itu gagal.
Menuju Kepemimpinan Transformasional
Editorial ini sepakat dengan poin HB: Modernisasi TPA dan penguatan Bank Sampah adalah harga mati. Pemerintah tidak boleh lagi alergi dengan kemitraan pihak swasta dalam daur ulang. Regulasi jangan hanya menjadi macan kertas yang tajam di dokumen tapi tumpul di lapangan.
Wajah “Palopo Baru” tidak akan pernah terwujud selama drainase kita masih tersumbat plastik dan lingkungan kita kehilangan kualitasnya. Kota yang bersih bukan sekadar soal estetika, tapi soal martabat dan kesehatan warganya. **Hendra /Arifin**






