Takalar.metro-pendidikan.com. Upaya merespon harapan masyarakat terhadap kebutuhan dakwah Islamiyah di Kabupaten Takalar khususnya Kecamatan Galesong dan sekitarnya, maka terbentuk Lembaga Dai Mubaligh Turikale pada 2020 berpusat di Galesong, Takalar yang dipimpin oleh Ilham Bachtiar, S.PI.
Pembentukan lembaga tersebut, menurut Ilham Bachtiar, cukup urgen dan beralasan. Selain, peminat dakwah dengan materi makrifat cukup besar, juga mencetak calon dai atau mubaligh diharapkan untuk memenuhi harapan masyarakat agar dakwah Islam bisa cepat sampai ke masyarakat terutama umat Islam sendiri.
“Kalau pun luaran lembaga tersebut belum bisa menyampaikan dakwah secara aktif di tengah masyarakat, minimal dulu diri dan anggota keluarganya,” kata Ilham Bachtiar.
Apa yang diungkapkan alumni Lembaga Dai Ukhuwatul Islamiyah (LDUI) Panciro, Gowa angkatan ke-4 tahun 2008 lalu, patut diberi suppport dan apresiasi setinggi tingginya atas perjuangan oleh sang pegawai Balai Perikanan Budidaya Air Payau Takalar ini.
Pasalnya, LDUI Panciro yang sukses mencetak dai kurang lebih 1.000 orang hingga kini melewati angkatan 20, tidak bisa lagi menampung dan memberdayakan secara masif para alumni tersebut hanya fokus di Masjid Ukhuwatul Islamiyah Panciro dan masjid mitra UI lainnya yang tersebar di berbagai tempat (sektor) dalam wilayah Kabupaten Gowa, Takalar, Makassar dan Jeneponto, melainkan harus ada wadah lain yang lebih akomodatif serta menerapkan manajemen yang transparan dan sehat.
Merespon tuntutan itu, dia terilhami untuk membentuk wadah pendidikan dan pelatihan dai dengan sebutan Lembaga Dai Mubaligh Turikale, di mana lembaga dan pengurusnya dikukuhkan oleh H Darmawansyah MUI pada 2020 di Bontonompo, Kabupaten Gowa.
“Bapak H Darmawansyah Muin saat itu masih aktif menjadi anggota DPRD Sulsel. Kini beliau menjadi Wakil Bupati Gowa dan sekaligus menjabat Ketua Dewan Pembina di Lembaga Dai Mubaligh Turikale Takalar,’ ucap Ilham yang kerap disapa ustad Mone.
Dia juga menegaskan, lembaga yang dipimpinnya tidak berafiliasi dengan lembaga dakwah lainnya termasuk LDUI Panciro. “Kami ingin lembaga Dai Mubaligh Turikale hadir benar-benar mengurus dakwah semata, sehingga umat merasakan kesejukan batin khususnya aspek mental dan spiritual kian tercerahkan dengan tetap mengedepankan akhlak Rasulullah SAW,” tandas Ilham Bachtiar sembari mengemukakan komitmennya.
Sukses Ilham Bachtiar membentuk Lembaga Dai Mubaligh Turikale tak lepas dari dukungan dari sesama alumni LDUI Panciro terutama yang berada di Kabupaten Takalar dan sekitarnya serta dua kepala desa dan dua imam desa di Galesong. Bahkan, mereka siap dijadikan sejumlah masjid sebagai tempat pelaksanaan kegiatan pendidikan dan pelatihan dai mubaligh selama enam bulan.
“Maklum lembaga kami belum punya markas atau gedung. Tapi secara pribadi bapak H Darmawansyah siap membantu kami dan beliau siap mewakafkan tanahnya seluas 17 are untuk rencana pembanguman gedung Lembaga Dai Mubaligh Turikale,” ungkapnya.
Bukan hanya itu, sebut Ilham, pribadi Darmawansyah Muin, menyiapkan baju seragam peserta dai mubaligh mulai angkatan pertama hingga angkatan lima. “Tak ada biaya pendidikan dan pelatihan yang kami tarik dari peserta kecuali biaya pendaftaran sebesar Rp 30.000 per kepala,”ucapnya.
Terkait materi pendidikan dan pelatihan, Ilham Bachtiar mengaku, merujuk materi dinul Islam yang disampaikan gurunda KH Muh Hasan Thahir (alm) saat memberi materi tersebut di LDUI Panciro beberapa angkatan lalu. Di samping, dia juga ditemani sejumlah dai/ustad luaran LDUI Panciro dengan materi pendidikan dakwah yang berbeda.
Sekedar diketahui bahwa Lembaga Dai Mubaligh Turikale sedang melaksanakan pendidikan dan pelatihan dai untuk angkatan kelima (2025) dengan jumlah peserta 21 orang. Sebelumnya, angkatan pertama (2020) 4 orang, angkatan kedua (2021) 27 orang, angkatan ketiga (2023) 35 orang dan angkatan keempat (2024) 12 orang.**
Laporan : Darwis Jamal






