WORKSHOP ANTI BULLYING DAN DISIPLIN POSITIF, CABDIS WILAYAH XII GANDENG PENERBIT ERLANGGA

Luwu Utara.metro-pendidikan.com Workshop anti bullying dan disiplin positif menjadi langkah krusial dalam memperkuat kompetensi guru, khususnya guru BK dan pembina kesiswaan. Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh Cabang Dinas Pendidikan Wilayah XII bekerjasama penerbit Erlangga Luwu Utara, berlangsung pada Kamis, 30 Juli 2026 di Aula Hotel Remaja Indah Masamba Kabupaten Luwu Utara.

Kegiatan kolaboratif ini bertujuan untuk memberikan penyegaran kepada pihak satuan pendidikan, tentang pentingnya memahami seluk beluk bullying agar satuan pendidikan bebas dari persoalan bullying serta memberikan pemahaman penerapan disiplin positif (dispo) dalam penerapan tata tertib di satuan pendidikan.

Acara ini menghadirkan dua pemateri. Materi terkait Pencegahan Bullying dengan menginternalisasi 7 kebiasaan anak Indonesia hebat (KAIH) dan keteladanan guru dipaparkan oleh PLT Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah XII, Andi Lalak, S.Pd, M.Pd. Materi kedua tentang disiplin positif disampaikan oleh Kepala Satuan Pendidikan SMAN 7 Luwu Utara, Mat Bahruddin, S.Pd.I, M.Pd.I yang merupakan fasilitator Dispo.

Peserta kegiatan sebanyak 50 orang adalah utusan dari satuan pendidikan SMA/SMK/SLB di Luwu Utara dari unsur Kepala, Wakasek Kesiswaan dan Guru BK. Workshop ini dipandu oleh Meyke, S.Si, guru Fisika SMAN 4 Luwu Utara.

Andi Lalak menjelaskan macam bullying, dampak serta upaya pencegahan melalui 7 KAIH dan keteladanan guru. Bullying bukan hanya fisik dan verbal, tetapi juga termasuk bullying sosial misalnya mengucilkan atau tidak menemani serta cyberbullying, yaitu bullying di ruang digital.

“Kita harus memastikan bahwa apa yang akan kita posting atau share di ruang digital adalah sesuatu yang baik dan bermanfaat, karena itu sebelum dituangkan di media sosial melalui “filter” terlebih dahulu, yaitu meliterasi kata demi kata dan memastikan tidak ada yang kontroversi atau menyinggung perasaan orang lain baru diposting”, jelas mantan Wakasek Bidang Kesiswaan SMAN 1 Luwu Utara (dulu SMAN 1 Masamba).

“Termasuk juga dalam menshare postingan, harus diliterasi dan dipastikan baik dan bermanfaat baru dishare”, tambah Andi Lalak yang juga Ketua Perkumpulan Pendidik Biologi Indonesia folia Sulsel ini.

Dia juga mengungkapkan, tak kalah pentingnya adalah keteladanan. Guru harus menjadi role model di satuan pendidikan masing-masing. Mulai cara berpakaian, bertutur kata, bertindak, menghadapi peserta didik, serta dalam berinteraksi dengan sesama guru dan peserta didik.

“Intinya apa yang terlihat dan terdengar dari seorang guru adalah sesuatu yang bermanfaat,” tandas Ketua BKPRMI Luwu Utara di hadapan para peserta.

Pada sesi kedua, Mat Bahruddin memaparkan tentang Dispo dalam tata tertib di satuan pendidikan. Saat ini, katanya, tata tertib sekolah harusnya bukan lagi sistem poin. Peserta didik harus mulai disadarkan bahwa segala sesuatu yang dilakukannya memiliki konsekwensi. Datang telat memiliki konsekwensi. Malas belajar memiliki konsekwensi.

Menurut, Mat Bahruddin, hal ini dilakukan melalui dialog mendalam dengan peserta didik, menyampaikan beberapa pernyataan. Menyampaikan akibat dari sebuah pelanggaran.

Harapannya mereka akan menyadari dan tidak melakukan apapun yang melanggar tata tertib, dan itulah disiplin positif,” demikian Pengurus PGRI Luwu Utara tersebut memaparkan.

Turut hadir dalam kegiatan ini Pimpinan Penerbit Erlangga Luwu Utara, Abdan, S.Pd. Pada sesi terakhir, para peserta sangat antusias dalam menyampaikan pertanyaan terkait kondisi di satuan pendidikan masing-masing. Para peserta berkomitmen untuk memulai menerapkan apa yang diterima pada workshop kali ini. *@@**

Laporan : Andi/Ar/DT

Pos terkait