Luwu Utara.metro-pendidikan.com. UPT SD Negeri 211 Bone-Bone kembali menunjukkan inovasi dan komitmennya dalam menghadirkan pembelajaran yang kontekstual, bermakna, dan berakar pada budaya lokal melalui kegiatan “Praktik DPL Komunikasi dalam upaya memperkuat i kearifan lokal bahasa Daerah Bugis” bagi murid Kelas VI, berlangsung baru saja ini.
Hal ini disampaikan Kepada SDN 211 Bone-bone, Kabupaten Luwu Utara, Syarifuddin Sapiri, S.Pd. Bahkan, menurutnya, kegiatan ini menjadi ruang nyata bagi murid untuk belajar berkomunikasi secara aktif menggunakan bahasa daerah bugis sekaligus melestarikan budaya lokal melalui praktik langsung pembuatan dan presentasi menu tradisional.
Dalam pelaksanaannya, lanjut Syarifuddin, kegiatan ini tidak hanya berfokus pada pencapaian dimensi Profil Lulusan pada tahap akhir berupa kemampuan komunikasi dan presentasi, tetapi juga menghadirkan berbagai dimensi profil lulusan selama proses pembelajaran berlangsung.
Nilai Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan Berakhlak Mulia tercermin melalui sikap santun, rasa syukur, serta penghormatan murid terhadap budaya dan makanan tradisional daerahnya. Dimensi Kewargaan tampak pada upaya menjaga identitas budaya lokal sebagai bagian dari warisan masyarakat Bugis yang perlu terus dilestarikan.
Selain itu, urainya, murid juga menunjukkan kemampuan Kolaborasi melalui kerja sama dalam menyiapkan bahan, membuat menu tradisional, hingga menyusun penyajian dan presentasi kelompok. Sikap nandiri terlihat ketika murid mampu menjalankan tugas masing-masing dengan tanggung jawab dan percaya diri.
Sementara itu, dimensi kreatif berkembang melalui cara murid mengolah tampilan makanan tradisional, menyusun media presentasi serta menggunakan Bahasa Bugis dalam komunikasi yang menarik dan komunikatif.
Kegiatan ini secara nyata memperlihatkan penerapan Prinsip Pembelajaran Mendalam, yaitu ber kesadaran, bermakna, dan menggembirakan yang hadir pada setiap pengalaman belajar murid.
Prinsip ber kesadaran tampak ketika murid memahami tujuan pembelajaran, menyadari pentingnya melestarikan Bahasa Daerah Bugis serta menghubungkan proses belajar dengan kehidupan nyata dan identitas budaya mereka sendiri. Murid belajar bukan sekadar menyelesaikan tugas, tetapi menyadari makna dari apa yang mereka lakukan dan pelajari.
Prinsip bermakna terlihat melalui keterlibatan langsung murid dalam pengalaman autentik. Mereka tidak hanya mempelajari konsep budaya lokal secara teoritis, tetapi mengalami sendiri proses membuat kue tradisional, menggunakan Bahasa Bugis dalam komunikasi, berdiskusi, dan mempresentasikan hasil kerja kelompok.
Pengalaman belajar yang dekat dengan kehidupan sehari-hari ini membuat pembelajaran lebih relevan, mudah dipahami, dan membekas dalam ingatan murid .
Sementara itu, prinsip menggembirakan hadir melalui suasana belajar yang aktif, hangat, interaktif, dan penuh antusiasme. Murid belajar dalam suasana kolaboratif, saling membantu, mencoba, berdialog, dan menampilkan hasil kerja mereka dengan percaya diri.
Kegiatan pembelajaran tidak terasa kaku atau membebani, tetapi justru menghadirkan rasa senang, bangga, dan semangat belajar karena murid diberi ruang untuk berekspresi dan menunjukkan kemampuan terbaiknya.
Tahapan pengalaman belajar Pembelajaran Mendalam juga tergambar secara jelas dalam kegiatan ini.
Pada tahap memahami, murid mempelajari nilai budaya, bahan, alat serta langkah pembuatan kue tradisional dan penggunaan Bahasa Bugis dalam komunikasi. Pada tahap mengaplikasikan, murid secara langsung mempraktikkan pembuatan kue tradisional, bekerja sama dalam kelompok, serta mempresentasikan hasil kegiatan menggunakan Bahasa Daerah Bugis.
Selanjutnya, pada tahap merefleksikan, murid mengevaluasi proses belajar, menyampaikan pengalaman yang diperoleh, serta menyadari pentingnya menjaga bahasa dan budaya lokal sebagai bagian dari identitas diri dan masyarakat Bugis.
Pembelajaran yang berlangsung menunjukkan bahwa murid terlibat aktif secara fisik, emosional, sosial, dan intelektual. Guru hadir sebagai fasilitator yang membangun lingkungan belajar yang memuliakan potensi murid, memberikan ruang kolaborasi, mendorong kreativitas, serta menghubungkan pembelajaran dengan konteks kehidupan nyata murid.
Harapannya, murid tidak hanya memiliki kemampuan komunikasi yang baik, tetapi juga tumbuh menjadi generasi yang berkarakter, mencintai budaya daerah, mampu bekerja sama, kreatif dan memiliki kesadaran untuk menjaga identitas lokal di tengah perkembangan zaman. Kegiatan ini menjadi bukti bahwa pembelajaran berbasis budaya lokal mampu menghadirkan pengalaman belajar yang lebih dekat dengan kehidupan murid sekaligus memperkuat nilai-nilai profil lulusan secara utuh melalui praktik nyata pembelajaran mendalam. ***
Laporan : Arifin/Syarif






