Profesor Harvard Mulai Melarang Laptop dan Perangkat Digital di Ruang Kelas

Makassar metro-pendidikan.com — Opini : Alasannya seharusnya menjadi perhatian setiap guru. Selama bertahun-tahun, sekolah dan universitas terus didorong untuk mengadopsi teknologi dalam dunia pendidikan. Semakin banyak laptop. Semakin banyak tablet. Semakin banyak tugas digital. Semakin banyak layar.

Namun, di salah satu universitas paling bergengsi di Amerika Serikat, sejumlah profesor justru mulai mengambil langkah ke arah yang berlawanan. Sebuah analisis yang diterbitkan oleh The Harvard Crimson pada September 2026 menemukan bahwa persentase silabus mata kuliah yang diteliti dan mencantumkan larangan penggunaan laptop atau seluruh perangkat pribadi telah meningkat lebih dari dua kali lipat.

Pada tahun akademik 2023–2024, hanya 6% dari silabus yang diteliti mencantumkan pembatasan semacam itu. Namun, pada tahun akademik 2025–2026, angka tersebut meningkat menjadi 14%. Bahkan, khusus untuk mata kuliah pendidikan umum (general education), sebanyak 31% silabus yang diteliti secara tegas melarang penggunaan perangkat digital.

Coba renungkan sejenak.

Di sebuah universitas yang dipenuhi mahasiswa dengan kemampuan akademis terbaik di negeri itu, semakin banyak profesor yang memutuskan bahwa laptop tidak seharusnya digunakan di ruang kelas.

Hal ini memunculkan sebuah pertanyaan yang jauh lebih luas daripada sekadar persoalan di Harvard: Apakah kita sedang mendidik siswa agar mampu berpikir sendiri, atau justru mendidik mereka untuk bergantung pada teknologi dalam melakukan proses berpikir?

Laptop bisa menjadi sarana pembelajaran yang luar biasa. Kecerdasan buatan atau AI dapat membantu siswa melakukan penelitian, memahami konsep-konsep yang sulit, dan mengeksplorasi gagasan-gagasan baru.

Namun, ada perbedaan besar antara menggunakan teknologi untuk mendukung proses belajar dan membiarkan teknologi menggantikan proses belajar itu sendiri.

Siswa perlu belajar bagaimana membentuk pendapat mereka sendiri. Bagaimana membaca sesuatu yang sulit, lalu memahami maknanya. Bagaimana menyusun argumen tanpa meminta AI membuatkannya. Bagaimana memecahkan persoalan yang rumit tanpa langsung mencari jawabannya di internet. Dan bagaimana menghadapi sebuah pertanyaan, memikirkannya secara mendalam, lalu berusaha menemukan solusinya sendiri.

Sebab, mengalami kesulitan dalam memahami sesuatu bukan selalu berarti proses belajar telah gagal. Terkadang, justru melalui kesulitan itulah proses belajar yang sesungguhnya terjadi. Bayangkan apa yang terjadi ketika siswa terbiasa mendapatkan setiap jawaban hanya dalam hitungan detik. Mengapa harus menghafal informasi penting jika semuanya bisa langsung dicari?

Mengapa harus bersusah payah menyelesaikan tugas yang sulit jika AI dapat menghasilkan jawabannya hampir seketika? Mengapa harus meluangkan waktu untuk mengembangkan gagasan sendiri jika sebuah chatbot bisa membuatkannya untuk kita?

Berbagai teknologi tersebut memang bisa sangat bermanfaat. Namun, siswa tetap harus memiliki pengetahuan dan kemampuan menilai agar mampu mengenali ketika teknologi memberikan informasi yang keliru. Dan di sinilah muncul kekhawatiran yang jauh lebih besar.

Jika para profesor di universitas mulai membatasi penggunaan laptop karena khawatir terhadap gangguan konsentrasi dan dampaknya terhadap proses belajar, mengapa kita justru begitu mudah memberikan layar kepada anak-anak yang masih berada dalam tahap perkembangan kemampuan-kemampuan tersebut?

Anak-anak usia sekolah membutuhkan kesempatan untuk membaca buku fisik. Berlatih menulis tangan. Melatih konsentrasi tanpa terus-menerus terganggu oleh berbagai distraksi digital. Berdiskusi, melakukan kesalahan, mengajukan pertanyaan, dan menemukan jawaban melalui pemikiran mereka sendiri.

Teknologi tentu memiliki tempat dalam dunia pendidikan. Tidak ada yang perlu berpura-pura bahwa teknologi tidak penting. Namun, teknologi tidak boleh menjadi pengganti dalam mengembangkan keterampilan dasar yang justru menjadi fondasi bagi terjadinya proses belajar.

Mungkin sudah saatnya kita berhenti beranggapan bahwa semakin banyak teknologi berarti semakin baik pula kualitas pendidikan. Sebab, tujuan pendidikan seharusnya bukan sekadar menghasilkan siswa yang tahu cara menggunakan teknologi terbaru. Tujuan pendidikan adalah membentuk manusia yang mampu berpikir secara mandiri, bahkan ketika teknologi tersebut tidak tersedia.

Dan jika sejumlah universitas paling bergengsi di Amerika Serikat mulai mempertimbangkan kembali seberapa besar porsi teknologi yang seharusnya hadir di ruang kelas, mungkin sudah saatnya sekolah dasar dan sekolah menengah juga mulai membicarakan hal yang sama.**

Sumber : Diterjemahkan dari FB Learn Laugh Teach Oleh Wahyuddin Halim/Guru Besar Antropologi Fakultas Ushuluddin & Filsafat UIN Alauddin Makassar.**

Pos terkait