Prof Muhaemin Latif : FKUB Perlu Ekspansi Gerakan Kerukunan Hingga Isu Lingkungan

Makasaar.metro-pendidikan.com. Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) tidak hanya memiliki peran dalam menjaga harmoni antarumat beragama, tetapi juga dapat mengambil bagian dalam menyelesaikan berbagai persoalan sosial dan lingkungan. Perluasan peran tersebut dinilai penting untuk menjadikan kerukunan sebagai gerakan sosial yang lebih luas dan relevan dengan tantangan masyarakat saat ini.

Akumulasi pandangan ini disampaikan Dekan Fakultas Ushuluddin dan Filsafat (FUF) Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar, Prof Dr Muhaemin Latif, M.Th.I, M.Ed saat menghadiri kegiatan “Ngopi Kerukunan” yang diselenggarakan oleh Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Makassar, 3 Oktober 2026, di Café Saja, Kota Makassar.

Menurut Prof. Muhaemin Latif, kerukunan tidak seharusnya dipahami secara sempit hanya dalam konteks hubungan antarumat beragama. Kerukunan juga menyangkut bagaimana manusia membangun kehidupan sosial yang harmonis serta menjaga hubungan yang baik dengan lingkungan.

“FKUB tidak hanya berfokus pada aspek-aspek keagamaan, tetapi juga bisa menjadi solusi bagi berbagai persoalan sosial kemasyarakatan, termasuk isu lingkungan,” ujar Prof Muhaemin Latif.

Ia juga menilai bahwa semakin kompleksnya persoalan masyarakat membutuhkan pendekatan kerukunan yang lebih komprehensif. Karena itu, FKUB dapat menjadi ruang kolaborasi berbagai elemen masyarakat untuk merespons persoalan-persoalan sosial yang berkembang”, demikian Prof Muhaemin Latif.

“Kerukunan bukan hanya tentang bagaimana manusia hidup berdampingan dengan manusia lainnya, tetapi juga bagaimana manusia membangun relasi yang harmonis dengan lingkungan,” tambahnya.
Kemenag Perkenalkan Early Warning System
Kegiatan Ngopi.

Kerukunan menghadirkan Kepala Pusat Kerukunan Umat Beragama Kementerian Agama RI, H. Adib Abdus Shomad, Ph.D., sebagai narasumber.

Dalam pemaparannya, Adib Abdus Shomad memperkenalkan aplikasi Early Warning System (EWS) yang berkaitan dengan deteksi dini potensi-potensi konflik antarumat beragama.

Menurutnya, keberadaan sistem deteksi dini menjadi salah satu instrumen penting dalam mencegah konflik. Dengan mendeteksi potensi persoalan sejak awal, berbagai pihak dapat mengambil langkah antisipatif dan membangun penyelesaian sebelum konflik berkembang menjadi lebih besar.

Dikatakan, pemanfaatan teknologi tersebut diharapkan dapat memperkuat upaya pemerintah dan masyarakat dalam menjaga stabilitas serta kerukunan kehidupan umat beragama.
Makassar Didorong Jadi Pilot Project.

Sementara itu, Ketua FKUB Kota Makassar, Prof. Dr. H. Arifuddin Ahmad, M.Ag., menyambut baik gagasan mengenai perluasan makna dan gerakan kerukunan tersebut.

Ia berharap Kota Makassar dapat menjadi pilot project dalam membangun model kerukunan yang tidak hanya berorientasi pada harmoni antarumat beragama, tetapi juga pada terciptanya harmoni antara manusia dan lingkungan.

Menurutnya, gagasan tersebut dapat dikembangkan melalui kolaborasi antara FKUB, pemerintah, perguruan tinggi, tokoh agama, komunitas, dan berbagai elemen masyarakat.

Dengan demikian, kerukunan dapat bergerak dari sekadar wacana keagamaan menjadi sebuah gerakan sosial yang menyentuh berbagai aspek kehidupan masyarakat.
Gagasan menjadikan Makassar sebagai pilot project harmoni manusia dan lingkungan sekaligus membuka peluang lahirnya model kerukunan yang inklusif, ekologis dan berkelanjutan.

Model tersebut diharapkan dapat menjadi contoh bagi daerah lain dalam mengembangkan kehidupan masyarakat yang damai sekaligus memiliki kepedulian terhadap lingkungan. **ril***

Laporan : Darwis Jamal

Pos terkait