Luwu Utara.metro-pendidikan.com. Memasuki hari ketiga aksi demo besar-besaran oleh Wija to Luwu terhadap tuntutan pemekaran Provinsi Luwu Raya tidak menyurutkan semangat mereka
Buktinya, Luwu Utara masih bergolak, sedangkan Luwu Timur, Palopo dan Luwu menempuh jalur diplomasi setelah Datu Luwu mengeluarkan himbauan cooling down.
Demikian laporan wartawan Metro Pendidikan dari Masamba, Kabupaten Luwu Utara. Aksi demo di Luwu Utara masih berlangsung hingga Ahad (25/1/2026) di sejumlah titik, antara lain Jembatan Baliase, Masamba. Bahkan, menurut sumber di lapangan, mereka akan menggelar demo hingga 5 Februari 2026 mendatang.

Meski begitu, empat kepala daerah se Luwu Raya segera berangkat ke Jakarta membawa mandat Wija to Luwu sekaligus menghadap kepada bapak Presiden Prabowo Subianto agar Luwu Raya harus terbentuk Provinsi baru lepas dari wilayah Provinsi Sulawesi Selatan.
Pada waktu bersamaan, juga empat Ketua DPRD se Luwu Raya dengan tujuan sama untuk menghadap kepada Menteri Dalam Negeri dan pimpinan DPR RI di Jakarta.
Baik kepala daerah maupun pimpinan DPRD se Luwu Raya, tidak boleh mengabaikan aspirasi Wija to Luwu telah puluhan tahun berjuang untuk mendapatkan keadilan dari pusat, namun tak kunjung terealisasi dengan berbagai dalih.
Akumulasi kekecewaan dan kemarahan mereka meledak pada Jum’at 23 Januari 2026 dan nyaris tak terkendali, misalnya perbatasan wilayah Kabupaten Luwu-Wajo. Masyarakat setempat tutup jalan, selain membakar ban bekas juga memberi tanda batas wilayah melalui baru yang dicor dengan semen dan pasir akibatnya akses kendaraan di Trans Sulawesi tutup total dan lumpuh.
Hal yang sama, juga berlangsung di Jembatan Baliase Masamba, Luwu Utara menunjukkan gejala konflik horizontal yang semakin nyata setelah warga yang melintas mulai terlibat adu mulut hebat dengan kelompok yang melakukan penutupan akses jalan.
Kronologi ketegangan memuncak saat sejumlah pengendara dan warga setempat mencoba membuka paksa barikade yang dipasang. 1 Unit Mobil Hilux warna putih mencoba memaksakan diri melintasi blokade dihujani batu oleh pendemo yang merasa tidak dihargai perjuangannya oleh pengendara, Namun pengemudi tetap melaju menembus blokade massa dan berhasil lolos. Hingga saat ini belum diketahui kerugian yang dialami pengendara tersebut.
Bukan hanya itu, masyarakat lainnya merasa hak mobilitasnya terampas, terutama bagi warga yang harus bekerja dan memenuhi kebutuhan logistik harian. “Kami paham ada aspirasi yang diperjuangkan, tapi kalau jalan ditutup total seperti ini, kami yang rakyat kecil juga yang susah. Mau cari makan saja terhambat,” ujar salah satu warga yang terjebak di lokasi.
TIdak hanya itu, situasi di titik blokade dilaporkan sempat memanas ketika provokasi verbal mulai muncul dari kedua belah pihak.
Pengamat sosial memperingatkan bahwa jika mediasi tidak segera dilakukan, frustrasi masyarakat bisa meledak menjadi bentrokan fisik yang tidak diinginkan. Faktor risiko utama yang memicu eskalasi:
Hambatan Ekonomi: Terganggunya distribusi barang dan jasa.
Keadaan darurat dan sulitnya akses bagi ambulans atau kendaraan medis.
Absensi Penengah: Belum adanya kesepakatan konkret antara pihak yang memprotes dengan otoritas terkait.
Pihak keamanan setempat mengimbau seluruh lapisan masyarakat untuk menahan diri dan tidak mengambil tindakan main hakim sendiri.
Kini upaya dialog terus diupayakan untuk mencari titik tengah agar kepentingan umum tidak terus dikorbankan tanpa menurunkan spirit perjuangan Wija to Luwu merebut keadilan dan kesejahteraan yang lebih baik melalui pembentukan Provinsi Luwu Raya. **rep***
Laporan : Arifin Muha/Yosias Tombella






