Jamaah Shalat Id Panik, Ustad Yahya Waloni Meninggal Dunia Saat Bawakan Khutbah Masjid Minasa Upa

Makassar.metro-pendidikan.com. Innalillahi wa Inna Ilaihi Raaji’uun, Jumat 10 Zulhijjah 1446 Hijriah, suasana jamaah Masjid Darul Falah, Blok M, Minasa Upa, tiba-tiba mendadak panik dan tertegun senyap dalam duka. Seorang dai ternama, Ustaz H. Yahya Waloni saat menyampaikan khutbah Idul adha, Jumat pagi, 6 Juni 2025 wafat di hari yang suci.

Pagi itu tak ada firasat. Ustaz Yahya hadir sebagai khatib Shalat Idul Adha. Ia menyampaikan khutbah pertama dengan tenang dan penuh semangat. Namun, saat berdiri untuk memulai khutbah kedua, belum sempat satu paragraf sempurna ia ucapkan, tubuhnya mulai sempoyongan lalu roboh. Ia ambruk tepat di mimbar, di hadapan sekitar ribuan jamaah dalam kompleks perumahan terbesar di Kota Makassar.

Sontak para jamaah laki-laki jamaah panik, sebagian lainnya tertegun. Ustaz Yahya segera dilarikan ke RS Bahagia yang hanya berjarak sekitar 700 meter dari lokasi. Namun, Allah lebih mencintainya hambanya yang mualaf itu. Dari rumah sakit datang kabar duka: sang ustaz wafat dalam keadaan husnul khatimah—di hari suci, di tempat suci, dalam keadaan berjuang menegakkan kalimat Allah.

Ustaz H. Yahya Waloni dikenal sebagai tokoh yang santun dan tegas, serta aktif membina umat melalui ceramah-ceramah rutin di berbagai masjid di Indonesia. Sosoknya sederhana, tetapi ucapannya kuat menggugah.

“Beliau wafat dalam keadaan terbaik. Di hari yang agung, di tempat mulia, dan dalam keadaan sedang menyampaikan khutbah. Kami semua kehilangan,” ucap salah satu pengurus masjid yang tak kuasa menahan tangis.

Hingga Jumat siang, rumah duka mulai dipadati pelayat. Tangis dan doa berbaur di antara lantunan tahlil yang menggema. Banyak yang datang membawa kenangan tentang beliau, tentang ilmu yang tak pernah pelit dibagikan, dan nasihat yang tak lekang waktu.

“Beliau bukan sekadar ustaz. Tapi penjaga akhlak. Wafatnya adalah kehilangan besar,” ujar seorang jemaah, pelan yang tak bersedia disebut namanya.

Kepergian Ustaz Yahya Waloni mengingatkan bahwa para pejuang agama bisa wafat di atas medan tugasnya—dan mungkin, itu adalah cara terbaik untuk pulang. Di tengah takbir yang masih menggema dan kurban yang mulai disembelih, seorang khatib kembali kepada Rabb-nya dalam keadaan suci, pada hari di mana para Nabi juga pernah diuji.

Semoga Allah SWT merahmati wafatnya, menerima segala amalnya, dan menempatkannya di taman-taman surga-Nya. Aamiin. **ril**

Laporan : Tim

Pos terkait