Hari Santri dan Krisis Moral Kepemimpinan

Oleh: Alumnus Zainuddin, SH., S.Sos., M.Sos.*
Ketua KNPI Gowa / Alumni Pesantren Darul Arqam Gombara Makassar

GOWA, metro-pendidikan.com – Hari Santri yang kita peringati setiap 22 Oktober, tidak boleh direduksi menjadi seremoni tahunan. Ia adalah momentum refleksi historis dan moral atas peran santri dalam membentuk peradaban bangsa.

Sejak Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 yang difatwakan KH. Hasyim Asy’ari, santri telah membuktikan bahwa keberanian moral adalah modal utama kemerdekaan. Santri tidak berjuang karena ingin jabatan. Santri berjuang karena iman dan ilmu menuntutnya untuk membela kebenaran.

Inilah yang hilang hari ini.

Kita sedang mengalami krisis moral kepemimpinan. Banyak pejabat yang fasih berbicara tentang integritas, tetapi rapuh dalam praktik. Banyak intelektual yang tahu mana yang benar, tetapi memilih diam karena takut kehilangan posisi.

Di titik inilah santri harus tampil sebagai penjaga moral publik.

*Pertama, santri harus berani berkata benar.* Dalam tradisi pesantren, kebenaran tidak diukur dari siapa yang mengatakannya, tetapi dari dalil dan kejujuran. Maka tidak ada alasan bagi santri untuk tunduk kepada pangkat dan jabatan. Pangkat adalah amanah, bukan kebenaran. Jabatan adalah titipan, bukan dalil.

*Kedua, santri harus menegakkan moral.* Moral bukan sekadar etika pribadi, tetapi sistem nilai yang mengatur kekuasaan. Ketika kekuasaan tidak dikontrol moral, ia berubah menjadi alat penindasan. Santri yang dibesarkan dengan kitab kuning, diajarkan untuk mengkritik kekuasaan dengan adab, tetapi tanpa rasa takut.

*Ketiga, santri bukan penjilat.* Penjilat adalah bentuk paling rendah dari degradasi intelektual. Penjilat menukar kebenaran dengan kenyamanan. Menukar idealisme dengan proyek. Menukar harga diri dengan kedekatan kepada penguasa. Ini bertentangan dengan jiwa pesantren.

Saya menulis ini bukan sebagai pengamat. Saya menulis ini sebagai alumni Pesantren Darul Arqam Gombara, Kota Makassar. Di Gombara, saya belajar bahwa ilmu tanpa keberanian adalah mandul. Ilmu harus menjelma menjadi sikap. Dan sikap itu adalah keberpihakan kepada yang benar, bukan kepada yang berkuasa.

Sebagai Ketua KNPI Gowa, saya melihat generasi muda hari ini sedang kehilangan teladan. Mereka melihat para seniornya sibuk menjilat, bukan berjuang. Maka tugas kita adalah mengembalikan kembali martabat santri sebagai intelektual organik masyarakat.

Santri tidak boleh menjadi penonton dalam sejarah. Santri harus menjadi penulis sejarah.

*Selamat Hari Santri Nasional 2026.*
Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Dunia, hanya bisa dilakukan oleh santri yang merdeka pikirannya, berani suaranya, dan bersih moralnya.

*Penulis adalah Alumnus Zainuddin / Alumni Pesantren Darul Arqam Gombara, Ketua KNPI Gowa*

 

Pos terkait