Empat Dosen Poltekkes Makassar Berkolaborasi, Samakan Strategi Dan Inovasi Untuk Mengendalikan Hipertensi di Indonesia

Makassar.metro-pendidikan.com. ] Situasi dan kondisi hipertensi global
umat manusia pada berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia harus waspada. Sebab resiko yang akan ditimbulkan oleh Silent killer bernama “Hipertensi”, sungguh mengkhawatirkan. Meski, penyakit ini sejak lama menjadi problem kesehatan utama bahkan penyebab kematian nomor wahid. Karena itu, masyarakat Internasional saatnya mendeklarasikan “Darurat Hipertensi Global”.

Kekhawatiran itu, disampaikan dalam pandangan yang sama oleh empat dosen sekaligus ahli penyakit Hipertensi pada Poli Teknik Kesehatan (Poltekkes) Kemenkes, Makassar. Mereka adalah Dr H Abd Hady J, S.ST, S.Kes, Ns, M.Kes; Hariani, S.Kes, M.Kes; Dr Muhammad Nur, S.ST, S.Kes, M.Kes; dan Sri Angriani, SKM, S. Kep, Ns, M.Kes.

Menurut mereka, hipertensi memangsa secara diam-diam melalui perilaku gaya hidup tidak sehat, modus invasinya sangat halus dan senyap, bahkan membenamkan kesadaran manusia atas risiko dan dampaknya.

Hipertensi tidak langsung membunuh penderitanya, namun bekerja melalui peningkatan kejadian penyakit kardio-serebrovaskular, kemudian menciptakan mortalitas global yang tinggi di dunia.

Berdasarkan modus, itulah sehingga tekanan darah sistolik ≥140 mmHg menjadi penyebab 14,0% dari seluruh kematian di dunia, dan tekanan darah sistolik ≥140 mmHg menjadi penyebab 40,1% mortalitas akibat penyakit jantung iskemik, 38,1% mortalitas akibat stroke iskemik, serta 42,5% mortalitas akibat stroke hemoragik (Iqbal & Jamal, 2022; Oparil, Acelajado, Bakris, et al., 2018; . Jordan et al., 2018).

Serangan hipertensi demikian dalam realitas perkembangannya terbukti meningkatkan angka prevalensinya secara global dari tahun ke tahun. Tahun 1975, ada 594 juta orang dewasa terpapar hipertensi. Tahun 2000, terjadi peningkatan hampir dua kali lipat yakni 972 juta orang (333 juta di negara maju dan 639 juta di negara berkembang) atau 26% dari populasi dewasa dunia (Kearney, Whelton, Reynolds, et al., 2005). Tahun 2015, 1,13 miliar orang pada semua golongan sosialekonomi di dunia terpapar hipertensi, sebagian besar di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah (WHO, 2018).

Tahun 2018, prevalensinya 26.4% untuk seluruh populasi di dunia disertai sejumlah kematian akibat komplikasi hipertensi. Tahun 2019, jumlah penderita usia 30-79 tahun mencapai 32% pada wanita dan 34% pada pria (WHO, 2019,2020). Tahun 2020, angka prevalensi global 22%, naik menjadi 29,2% (1,28 milyar orang) Tahun 2021-2022, naik lagi menjadi 33% Tahun 2023, artinya 1 dari 3 orang penduduk dunia hipertensionis (WHO, 2021, 2022).

Tahun 2024, meskipun jumlahnya turun menjadi 1,13 milyar orang, namun Tahun 2025 diperkirakan akan terjadi peningkatan 15-20% pasien menjadi 1,5 milyar (WHO, 2023; Iqbal, Jamal, 2022; Oparil, Acelajado, Bakris GL, et al., 2018; Mills et al., 2020; Hegde, 2022). Menyadari realitas tersebut, WHO menetapkan salah satu target global pencegahan PTM yaitu mengurangi prevalensi hipertensi sebesar 33% pada Tahun 2030.

Situasi dan Kondisi Hipertensi di Indonesia masih menjadi salah satu episentrum penyakit hipertensi di dunia, terutama ditandai oleh peningkatan angka kejadian dalam satu dekade terakhir. Tahun 2013, prevalensinya 25,8% (Riskesdas 2013).

Tahun 2018, menjadi 34,1% (63.309.620 orang) pada kelompok usia ≥ 18 tahun (Riskesdas 2018; Dirjen P3, 2021; Kemenkes RI, 2021). Tahun 2023, turun menjadi 30,8%. Hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat prevalensi 10,7% pada usia 18–24 tahun dan 17,4% pada usia 25–34 tahun (Kemenkes BKPK, 2023).

Fenomena permasalahan yang muncul adalah: Pertama, masih banyaknya penderita tidak/ belum terdiagnosis. Kedua, kepatuhan berobat kurang (Infodatin, 2019). Ketiga, adanya gap antara jumlah penderita yang didiagnosis oleh dokter dengan hasil pengukuran tekanan darah, yang mengindikasikan masih banyak dan tingginya kejadian hipertensi belum terdeteksi di masyarakat (Balitbangkes Kemenkes, 2019).

Keempat, hipertensi menjadi faktor risiko tertinggi penyebab kematian (10,2%) keempat di Indonesia. Kelima, penyakit hipertensi bukan saja mencengkram kelompok lanjut usia namun kelompok usia muda (generasi Z dan milinea) dan anak-anak pun semakin banyak terpapar sehingga dapat mengancam eksistensi dan menghambat pencapaian generasi Indonesia Emas Tahun 2045.

Tantangan Permasalahan Pencegahan dan Pengendalian Hipertensi di Indonesia. Secara umum, ada banyak tantangan permasalahan dalam pencegahan dan pengendalian Hipertensi di Indonesia, namun secara garis besar dapat diklasifikasi kedalam dua kelompok besar yakni faktor internal dan eksternal.

Pertama, Faktor internal, diantaranya: (1) pengetahuan kurang, (2) kesadaran rendah, (3) komitmen dan kepatuhan berobat tidak konsisten, (4) motivasi dan pengalaman belajar kurang, (5) persepsi negatif, (6) pola perilaku gaya hidup tidak sehat. Kedua, Faktor eksternal, diantaranya: (1) lingkungan sosial yang buruk, (2) budaya tidak mendukung, (3) perubahan gaya hidup masyarakat, (4) ketersediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan aksesnya terbatas, (5) promosi kesehatan kurang, (6) faktor risiko yang tidak dapat diubah (usia dan riwayat keluarga), (7) dampak hipertensi yang serius.

Strategi dan Inovasi untuk Mengendalikan Hipertensi di Indonesia
Menyadari aneka tantangan permasalahan tersebut, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) sedang melaksanakan program pencegahan dan pengendalian hipertensi baik di layanan primer maupun lanjutan yang mencakup Tri-program yakni program peningkatan kesadaran masyarakat, program deteksi dini dan pengobatan di FKTP, program khusus, dan upaya lainnya.

Pertama, Program peningkatan kesadaran masyarakat dilakukan melalui tiga pendekatan yaitu: 1) Perilaku CERDIK (C = Cek kesehatan rutin; E = Enyahlah asap rokok; R = Rajin aktivitas fisik; D = Diet seimbang; I = Istirahatlah yang cukup; K = Kelola stress); 2) Perilaku PATUH (P= Periksa tekanan darah secara rutin; A= Anggap serius jika tekanan darah tinggi; T=

Turut serta dalam kegiatan kesehatan; U = Ubah gaya hidup sehat; H = Hindari kebiasaan buruk). 3) Edukasi dan Promosi (EP), melalui berbagai media dan kegiatan di masyarakat untuk meningkatkan kesadaran tentang hipertensi dan cara mencegahnya.
Kedua, Deteksi Dini dan Pengobatan: a. Deteksi Dini, mencakup (1) Pemeriksaan tekanan darah rutin di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) seperti puskesmas, dan (2) Pemeriksaan tekanan darah di rumah (Home Blood Pressure Monitoring) atau di tempat lain (Ambulatory Blood Pressure Monitoring). b. Pengobatan, mencakup (1) Pengobatan di FKTP sebagai penanganan awal dan control, (2) Penting untuk mengikuti anjuran dokter mengenai jenis dan dosis obat, serta cara minum obat secara teratur, dan (3) Perubahan gaya hidup seperti diet sehat, olahraga, dan manajemen stres juga penting dalam mengendalikan hipertensi.

Ketiga, Program Khusus, yaitu: a. Program BERANI, berfokus pada dukungan keluarga dalam meminimalkan faktor risiko, modifikasi gaya hidup, dan penanganan hipertensi, dan b. Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS), bertujuan mendorong peningkatan aktivitas fisik, perilaku hidup sehat, penyediaan pangan sehat, pencegahan dan deteksi dini penyakit, kualitas lingkungan, dan edukasi hidup sehat. Keempat, Upaya Lainnya, mencakup: a. Penguatan Kader Kesehatan, b. Peningkatan akses layanan kesehatan, dan c. Kolaborasi.

Mereka juga berharap kepada semua pihak termasuk pemerintah, para tembaga/ kementerian terkait, para pemda (provinsi, kabupaten/kota), para tenaga medis/kesehatan, kader kesehatan, keluarga dan masyarakat bergotong royong, bersatu padu bahu membahu mencegah, mengendalikan, memberantas, melawan dan menyapu bersih penyakit hipertensi menuju Generasi Sehat Indonesia Emas 2045. ***

Laporan : Darwis Jamal

Pos terkait