Ekoteologi Sebagai Implementasi Wahdatul Wujud, Ruang Kesadaran Spiritual dan Ekologis

Media metro-pendidikan.com]“Merawat Bumi adalah cerminan implementasi Wahdatul Wujud. Maka di manapun kamu menghadap di situlah wajah Allah”. Begitu pandangan sufistik Prof Dr KH Nasaruddin Umar, MA yang diungkapkan saat memberikan sambutan pada acara peluncuran Gerakan Nasional Penanaman Sejuta Pohon Matoa Kemenag RI, Selasa 22 April 2025 lalu di Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) Depok.

Kegiatan ini juga merupakan bagian dari peringatan Hari Bumi ke-55 dirangkai dengan acara peletakan batu pertama pembangunan Pondok Pesantren Istiqlal Internasional Indonesia (PIII) Jakarta.

Apa keterkaitan antara konsep metafisika Wahdatul Wujud dalam Islam dan pendekatan ekoteologi sebagai strategi menumbuhkan kesadaran spiritual sekaligus kepedulian ekologis?

Penulis mencoba menjabarkan sekaligus mengartikulasikan konsep Wahdatul Wujud sebagai filosofi kesatuan eksistensial antara makhluk dan Tuhan, membuka ruang kontemplasi bahwa kerusakan lingkungan bukan sekadar problem ekologis, tetapi juga spiritual.

Melalui pendekatan ini, manusia diajak memahami alam sebagai manifestasi kehadiran Ilahi yang mesti dijaga, bukan dieksploitasi. Ekoteologi kemudian hadir bukan hanya sebagai reaksi terhadap krisis lingkungan, tetapi sebagai jalan spiritual untuk merawat bumi sebagai bagian dari zikir kosmik (alam besar).

Krisis ekologis sangat memungkinkan terjadinya krisis spiritual. Kerusakan bumi mencerminkan ke terputusan manusia dari akar metafisiknya. Dalam konteks ini, konsep Wahdatul Wujud yang berkembang dalam tradisi tasawuf klasik dalam Islam menjadi sangat relevan di era modern ini.

Gagasan bahwa “tidak ada wujud hakiki selain Allah” membuka perspektif baru bahwa segala entitas di alam memiliki kedekatan ontologis dengan Tuhan. Maka, menyakiti alam adalah menyakiti manifestasi dari kehadiran-Nya. Ekoteologi sebagai pendekatan spiritual terhadap lingkungan menawarkan sebuah kerangka yang menyatukan kesadaran ekologis dan keimanan eksistensial

Istilah Wahdatul Wujud pertama kali dipopulerkan oleh Ibnu Arabi, meskipun konsepnya telah berakar dalam tradisi mistik Islam dan sangat kontroversial saat itu. Bagi Ibnu Arabi, segala sesuatu adalah tajalli (penampakan) dari Zat Ilahi. Tidak ada dualitas mutlak antara Tuhan dan ciptaan, tetapi sebuah hubungan eksistensial yang saling terikat.

Dalam kerangka ini, gunung, sungai, hewan, dan tumbuhan bukanlah benda mati atau objek eksploitasi, melainkan bagian dari dinamika wujud Ilahi yang hidup dan bertasbih.

Pandangan ini menciptakan landasan spiritual untuk etika lingkungan. Jika alam adalah manifestasi Tuhan, maka menjaga lingkungan bukan sekadar kewajiban ekologis, melainkan ibadah. Alam menjadi ruang zikir dan tempat tafakur. Interaksi manusia dengan bumi pun berubah dari dominasi menjadi pengabdian.

Ekoteologi lahir dari kesadaran bahwa pendekatan teologis dapat menjadi landasan kuat untuk menanggapi krisis ekologi. Dalam Islam, banyak ayat Al-Qur’an yang menyerukan keseimbangan, larangan kerusakan (fasad) di bumi, dan perintah untuk merenungi ciptaan Allah. Misalnya, QS. Ar-Rum: 41 menyebutkan bahwa kerusakan di darat dan laut terjadi akibat ulah manusia. Ini adalah panggilan moral untuk bertobat secara ekologis.

Dengan memadukan Wahdatul Wujud, ekoteologi tidak hanya mengajarkan pelestarian lingkungan, tetapi menjadikan alam sebagai ruang suci yang hidup. Alam bukan hanya ciptaan, tetapi cerminan dari Sang Pencipta. Melalui pendekatan ini, lahirlah spiritualitas ekologis yang menumbuhkan empati terhadap lingkungan, bukan karena tekanan hukum, tetapi karena cinta Ilahi.

Implementasi ekoteologi berbasis Wahdatul Wujud dapat diwujudkan melalui pendidikan spiritual berbasis alam, pendekatan sufistik dalam konservasi, serta gaya hidup minimalis yang selaras dengan alam. Contoh konkret dapat ditemukan dalam praktik tarekat-tarekat yang mengajarkan hidup sederhana, bercocok tanam, menjaga kebersihan lingkungan, dan melihat alam sebagai tanda-tanda (ayat) Tuhan.

Lebih dari itu, pendekatan ini dapat membentuk kerangka etika baru yang lebih dalam: dari etika antroposentris menuju etika teosentris. Bumi bukan milik manusia, tetapi amanah dari Tuhan. Oleh karena itu, kerusakan terhadap bumi adalah bentuk pengkhianatan terhadap amanah Ilahi.

Konsep Wahdatul Wujud dalam tasawuf menawarkan kontribusi penting bagi pembangunan kesadaran ekologis melalui pendekatan ekoteologi. Kesadaran ekologis bahwa alam adalah penampakan dari Tuhan membawa manusia pada pengalaman spiritual yang lebih mendalam terhadap lingkungan.

Dalam dunia modern yang serba utilitarian pendekatan ini bisa menjadi jembatan antara iman dan aksi nyata dalam merawat bumi. Dengan menyemai spiritualitas dan kepedulian, manusia tidak hanya menyelamatkan lingkungan, tetapi juga menyelamatkan jiwanya sendiri. **Syamsir Nadjamuddin/Penggiat Spiritualitas Islam**

Pos terkait