Palopo.metro-pendidikan.com. Bupati Bombana, Ir.H.Burhanuddin,M.Si didampingi rombongan, melaksanakan kunjungan khusus ke Istana Kedatuan Luwu, Langkanae, Kota Palopo, Selasa (20/1/2026).
Kunjungan ini ditandai dengan pelaksanaan prosesi adat sakral “Mangngolo” atau menghadap secara resmi kepada Yang Mulia (YM) Datu Luwu, Andi Maradang Mackulau.
Prosesi “Mangngolo” merupakan salah satu tradisi turun-temurun di Kedatuan Luwu, yang melambangkan penghormatan tinggi dan pengakuan terhadap posisi Datu Luwu sebagai pemimpin adat dan pemangku amanah sejarah Tana Luwu.
Kehadiran Bupati Bombana dalam prosesi ini menegaskan komitmen untuk senantiasa menjaga dan mempererat tali silaturahmi antara pemerintah daerah dengan lembaga adat, khususnya Kedatuan Luwu yang memiliki peran sentral dalam menjaga nilai-nilai budaya dan kearifan lokal.
Sebelum prosesi inti, rombongan Bupati Bombana disambut hangat oleh perangkat adat dan panitia di lingkungan Istana Langkanae.
Persiapan “Mangngolo” telah dilakukan dengan cermat, melibatkan para tokoh adat dan perwakilan masyarakat untuk memastikan kelancaran acara.
Bupati Burhanuddin dalam kesempatan tersebut menyampaikan rasa hormat dan terima kasih atas penerimaan yang hangat dari pihak Kedatuan Luwu.
“Kunjungan ini bukan hanya sekadar agenda formal, tetapi lebih dari itu, merupakan wujud penghormatan kami kepada Datu Luwu sebagai simbol kebesaran sejarah dan adat.
Ini juga menjadi momentum untuk memperkuat sinergi antara pemerintah daerah dan lembaga adat dalam membangun daerah serta melestarikan budaya kita,” ujar Bupati Bombana
Datu Luwu, YM Andi Maradang Mackulau, menyambut baik kedatangan Bupati Bombana. Beliau berharap kunjungan ini dapat terus memperkuat persaudaraan dan kerja sama dalam berbagai sektor, demi kemajuan bersama masyarakat.
Kunjungan dan prosesi “Mangngolo” ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan besar Hari Jadi Luwu (HJL) dan Hari Perlawanan Rakyat Luwu (HPRL) yang tengah diperingati.
Kedua momentum tersebut menjadi pengingat akan sejarah panjang dan perjuangan masyarakat Luwu, serta pentingnya menjaga persatuan dan kebersamaan.
Diharapkan, melalui kegiatan semacam ini, ikatan emosional dan historis antara berbagai wilayah di Sulawesi Selatan, khususnya dengan Kedatuan Luwu, dapat terus terpelihara dan menjadi fondasi kuat bagi pembangunan yang berlandaskan adat dan budaya. **dia***
Laporan : Arifin Muha






