Pappaseng To Riolo Untuk Pemimpin dan Rakyat Dinarasikan Opu Luthfi Andi Mutty

Luwu Utara.metro-pendidikan.com Satu “pappaseng” atau petuah yang sering disampaikan orang-orang tua kita kepada anak cucunya adalah agar mewaspadai “sara’dasi”.Sara’dasi dapat diartikan sebagai adu domba atau hasutan.

‘Saya tidak tahu persis apakah sara’dasi ada hubungannya dengan “dasi”. Asesoris yang sering digunakan seorang peria saat memakai jas. Untuk diketahui, meskipun terbuat dari sehelai kain, tapi bagian ujung bawah dari dasi selalu terpisah,” ujar Luthfy Andi Mutty yang dijuluki Opu LAM.

Yang pasti, lanjutnya, sara’dasi membuat sepasang pemimpin yg dipilih secara paket, yg seharusnya bersifat “dwitunggal”, dua dalam satu menjadi terpisah. Pappaseng ini sering diikuti dengan “aja’ mu elo’ na ola tauwe elle’mu”. Jangan biarkan ada orang berada di antara kalian.

Ingat, perpecahan pemimpin akan menjadi malapetaka bagi daerah dan rakyat. Kenapa? Karena energi akan habis unruk saling mengintai dan menggalang kekuatan untuk saling menghabisi. Tak ada waktu mengatur dan mengurus rakyat.

Bagaimana menghindari sara’dasi? Sebut Opu LAM, (1) Jangan beri peluang munculnya pembisik. Karena pembisik pada hakekatnya akan mengadu domba. Mencari keuntungan dari perpecahan pemimpin.

(2) Terjadinya kerenggangan bisa juga lewat keluarga terdekat. Lewat istri, saudara atau orang dekat lainnya. Maka jangan beri peluang kepada mereka untuk membuat terjadinya kerenggangan itu.

(3) Selalulah berbaik sangka satu terhadap yg lain. Maka jangan pernah mengeluhkan/curhat atas pasangan masing-masing kepada pihak lain. Karena ini akan menjadi pintu masuk pihak ke tiga naolai elle’mu.

(4) Jangan biarkan pegawai terpecah. Mereka harus dibuat solid. Bekerja di bawah satu nahkoda dsn (5) Meskipun bekerja sebagai dwi tunggal, tetapi harus diingat bahwa di kapal yg sedang berlayar, hanya ada satu nahkoda yg memegang kendali. Dan nahkodanya adalah bupati.

“Saya percaya bahwa sebagai alumnus sekolah tinggi pemerintahan, wakil bupati sangat paham posisinya sebagai wakil. Dia telah dibekali etika kepemimpinan. Tetaplah berpegang pada filsafat kepamongprajaan ASTABRATA,” ungkap mantan Bupati Luwu Utara ini.

‘Saya lihat ada ketulusan yg terpancar dari wajah kedua pemimpin kita. Semoga keduanya langgeng bekerja sebagai dwi tunggal. Dua tapi satu,” demikian Luthfi Andi Mutty yang menarasikan filsafat hidup Wija To Luwu ini. **

Laporan : Arifin Muha

Pos terkait