Enam Gugus KKG Seko Ikuti Pelatihan Pembelajaran Mendalam dan Koding Kecerdasan Artifisial

Luwu Utara, metro-pendidikan.com — Semangat meningkatkan kompetensi guru terus tumbuh hingga ke pelosok daerah di Kabupaten Luwu Utara. Hal itu terlihat dari antusiasme guru-guru di Kecamatan Seko yang mengikuti Pelatihan Pembelajaran Mendalam, Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA) selama tiga hari, 28–30 September 2026.

Kegiatan tersebut diinisiasi oleh komunitas enam gugus Kelompok Kerja Guru (KKG) se-Kecamatan Seko, yang terdiri atas empat gugus KKG jenjang Sekolah Dasar (SD) dan dua gugus KKG jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Pelatihan ini difasilitasi oleh tim fasilitator dari Masamba, yakni Aripuddin Sapiri, http://S.Pd.SD, Syamsir Mappilawang, http://S.Pd., Yundini, http://S.Pd., Husnaeni, http://S.Pd., Fitriani, http://S.Pd., dan Reski Rahayu, http://S.Pd. Tim berangkat menuju Seko pada 28 September 2026 untuk memenuhi undangan komunitas gugus KKG dan kembali ke Masamba melalui jalur penerbangan pada 1 Oktober 2026 setelah menyelesaikan seluruh rangkaian kegiatan.

Kegiatan ini menjadi momentum penting bagi para guru di Seko untuk memperkuat kompetensi sekaligus memperluas wawasan tentang pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan murid di era perubahan teknologi yang begitu cepat.

*Pembelajaran Mendalam Menjadi Kebutuhan Guru*

Pembelajaran Mendalam menjadi pendekatan yang semakin relevan saat ini. Pendekatan ini mendorong guru menghadirkan proses belajar yang tidak sekadar berorientasi pada penyampaian materi, tetapi memberikan pengalaman belajar yang bermakna, berkesadaran, dan menggembirakan.

Dalam pelatihan, guru diperkenalkan pada tiga pengalaman belajar utama, yakni memahami, mengaplikasi, dan merefleksi. Melalui ketiga pengalaman tersebut, murid tidak hanya diharapkan mengetahui suatu konsep, tetapi juga mampu menerapkannya dalam kehidupan nyata serta melakukan refleksi terhadap pengalaman belajar yang telah dilalui.

Pembelajaran juga diarahkan pada kemampuan guru dalam memilih materi esensial, yaitu materi yang benar-benar penting, relevan, berkelanjutan, sesuai perkembangan murid, serta berdampak pada pencapaian kompetensi.

*Inquiry Kolaboratif, Berangkat dari Masalah Nyata*

Salah satu penguatan penting dalam pelatihan adalah Inquiry Kolaboratif. Pendekatan ini mengajak guru melihat masalah pembelajaran berdasarkan kondisi nyata di kelas. Guru kemudian bekerja secara kolaboratif untuk menemukan solusi berbasis data dan bukti, melalui tahapan mengidentifikasi masalah, menganalisis data, merancang solusi, mengimplementasikan pembelajaran, serta merefleksikan dampaknya terhadap murid.

*Menguatkan Growth Mindset dan Pemanfaatan Teknologi*

Pelatihan juga mengintegrasikan konsep growth mindset atau pola pikir bertumbuh. Guru didorong mampu memberikan intervensi tepat kepada murid yang cenderung memiliki fixed mindset, seperti merasa tidak mampu, takut salah, atau mudah menyerah.

Pembelajaran Mendalam juga dikaitkan dengan pemanfaatan teknologi, termasuk penggunaan Papan Interaktif Digital yang telah tersedia di sekolah-sekolah, termasuk di wilayah pelosok. Teknologi tidak diposisikan sebagai pengganti guru, melainkan sebagai alat bantu memperkaya pengalaman belajar. Pengenalan Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA) menjadi bagian penting untuk mempersiapkan murid menghadapi perkembangan teknologi secara bijak dan kontekstual.

*Dukungan Korwil dan Enam Gugus KKG*

Terselenggaranya kegiatan ini tidak terlepas dari dukungan Koordinator Wilayah Pendidikan Kecamatan Seko, Hasdin, http://S.Ag., bersama Kelompok Kerja Kepala Sekolah (KKKS) Kecamatan Seko. Keberhasilan kegiatan juga ditopang oleh peran para ketua gugus KKG se-Kecamatan Seko dalam koordinasi, penentuan waktu, persiapan kebutuhan, hingga memastikan kehadiran fasilitator.

Salah seorang fasilitator mengungkapkan, “Sambutan dari panitia dan peserta luar biasa. Kami merasakan perhatian dan antusiasme yang sangat besar selama proses pelatihan. Ini menunjukkan bahwa guru-guru di Seko memiliki semangat yang kuat untuk terus belajar dan mengembangkan kompetensinya.”

*Bukan Sekadar Teori, Peserta Praktik Real Teaching*

Tidak hanya teori, peserta juga melakukan praktik real teaching. Murid dihadirkan secara langsung sehingga peserta dapat mengamati bagaimana pembelajaran dirancang, dilaksanakan, dan direfleksikan. Praktik baik terkait pengelolaan kelas, pemanfaatan teknologi, hingga strategi intervensi pola pikir murid menjadi bagian dari rangkaian kegiatan.

Perjalanan menuju Seko bukan sekadar agenda pelatihan, melainkan ikhtiar bersama memastikan peningkatan kompetensi guru menjangkau seluruh wilayah, termasuk daerah dengan tantangan geografis.

Dari Seko, semangat itu terus tumbuh: guru belajar, guru berkembang, dan murid mendapatkan dampak terbaik dari pembelajaran.

Laporan : SS/Arifin

Pos terkait