Sambut Era Metaverse, Kualitas SDM Aparatur Tentukan Masa Depan Pemerintah Pascapandemi

Luwu Utara, metro-pendidikan.com  —  Sulit untuk percaya bahwa dua tahun terakhir energi bangsa ini habis terkuras untuk sekadar bertahan hidup di tengah wabah COVID-19. Pun sulit untuk dipercaya bahwa manusia di muka bumi ini akan selalu baik-baik saja. Kenyataannya, dua tahun lebih manusia terkungkung dalam kepanikan global. Mereka harus bertempur melawan virus yang sejatinya tidak terlihat, tetapi mampu membuat dunia kelimpungan di berbagai sektor kehidupan.

Selain kesehatan, sektor ekonomi menjadi sektor paling terdampak. Ratusan ribu manusia telah meregang nyawa akibat virus Corona. Denyut nadi perekonomian juga dipastikan melambat, bahkan tergoncang dan kolaps. Imbasnya, pertumbuhan ekonomi pun ikut melambat secara nasional, sehingga sendi-sendi kehidupan ekonomi menjadi lumpuh. Jika ini tidak tertangani dengan baik, maka cepat atau lambat, masyarakat akan menjadi korban.

Meski demikian, badai COVID-19 pasti akan berlalu. Sehebat apa pun itu, yang namanya wabah, sifatnya sementara. Sekali lagi, pandemi ini mempertegas kedudukan manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial yang penuh dengan ketidaksempurnaan dan ketidakberdayaan. Namun, ketidaksempurnaan itu bukan berarti harus menyerah, karena pemerintah juga terus berupaya berbuat untuk segera keluar dari pusaran wabah COVID-19.

Vaksinasi! Sejak ditemukannya vaksinasi COVID-19 untuk memperlambat laju kasus COVID-19, yang kemudian berproduksi dan terus berproduksi di beberapa negara, seperti Amerika Serikat, Cina, Inggris, termasuk Indonesia, perlahan namun pasti, kasus COVID-19 mulai melandai di awal 2023. Kabar baik ini sekaligus mengonfirmasi bahwa kesehatan manusia berangsur-angsur mulai membaik dan kembali normal karena pandemi semakin terkendali.

Konfirmasi makin membaiknya kehidupan di awal 2023 ini terpotret dari normalnya kembali kehidupan sosial, seperti aktivitas manusia mulai padat di jalan raya, keramaian fasilitas transportasi publik, serta tempat-tempat keramaian lainnya seperti pusat perbelanjaan, pasar tradisional dan tempat-tempat wisata lainnya, termasuk ratusan ribu suporter sepak bola yang kini diperbolehkan mengisi ratusan ribu tempat duduk yang disediakan.

Manusia kembali menemui kemacetan transportasi di jalanan yang dua tahun terakhir lenyap tak berbekas akibat berbagai pembatasan sosial yang diterapkan pemerintah. Tak ada lagi yang memedomani aturan jaga jarak meski tetap memakai masker. Yang patut disyukuri, pemerintah secara resmi membolehkan salat berjemaah di masjid, tarawih di masjid selama bulan Ramadan, termasuk mudik diperbolehkan. Kehidupan birokrasi pun kembali bergairah.

bisa dipetik oleh manusia yang mau berpikir dan tafakkur, karena semua peristiwa terjadi atas izin Allah SWT. Metaverse tak bisa mengganti apa yang sudah ada (universe), tetapi bisa memperkaya apa yang telah ada.

Suka tidak suka, mau tidak mau, metaverse akan menjadi bola salju yang terus menggelinding menembus dinding ruang dan waktu. Metaverse yang diumumkan secara publik oleh Mark Zuckerberg (pendiri Facebook) pada 2021, cepat atau lambat akan menjadi lifestyle bagi kehidupan di masa depan. Untuk itu, pemerintah di semua level diharap segera menyiapkan SDM mumpuni yang tak mudah menyerah pada setiap persaingan digitalisasi.

Tak mudah memang, tapi semua harus siap menghadapi perubahan paradigma dan cara pandang Metaverse. Manusia harus bisa hidup dalam ekosistem Metaverse. Manusia harus menciptakan Artificial Intelligent (AI) karena itu akan menjadi ujung tombak teknologi di era Metaverse. Menurut Stefan Brambilla (World Economic Forum), AI akan menciptakan ruang disrupsi kreatif yang nyaris tanpa batas, dan mendorong munculnya ruang ekonomi baru. Siapa yang akan mendorong semua itu? Tak lain dan tak bukan adalah SDM Aparatur yang nantinya akan ikut terlibat dalam ruang baru yang tercipta di dunia Metaverse. (LH)

Pos terkait