Pengawas SD Sampaikan Pesan Saat Pelepasan Guru SDI Timusu Masuki Purnabakti

Bone, metro-pendidikan.com. Pengawas Sekolah Dasar (SD) Dinas Pendidikan Kabupaten Bone Syarifuddin menyampaikan sejumlah pesan saat menghadiri pelepasan purnabakti guru UPT SD Inpres 5/81 Timusu Desa Timusu Kecamatan Ulaweng, di halaman SDI Timusu, Selasa (30/4/2024).

Pesan pertama yang disampaikan Syarifuddin bahwa tidak ada istilah mantan guru meski sudah pensiun. ‘Mengajar tidak ada batasnya sepanjang mau mendedikasikan dirinya untuk bangsa. Guru selalu mengajar tepat waktu”, katanya.

Dia juga mengatakan, guru adalah orang tua para murid di sekolah. Harus ada kolaborasi antara guru dan orang tua dalam menjaga/mengawasi murid dari bahaya narkoba.

Syarifuddin berpendapat, meskipun guru purnabakti atau memasuki masa pensiun, tetap harus dianggap sebagai seorang guru. Ia menegaskan agar tidak menyebut pensiunan guru sebagai mantan guru.

“Anak-anakku sekalian di UPT SD Inpres 5/81 Timusu, saya tidak mau mendengarkan nanti, kalau ibu Rosdiana, makkeda aro mantan guru ku, aro bekas guru ku, itu tidak benar’, tukas Syarifuddin dengan nada Bahasa Bugis.

Dalam hemat Syarifuddin, meski ibu Rosdiana tidak lagi aktif mengajar di SDI Timusu, namun di tengah-tengah masyarakat tetap dipanggil guru kalian.

Lebih lanjut ia mengingatkan jasa guru mengajar murid mulai dari nol. Mulai dari kelas satu yang belum tahu membaca dan menulis, diajar oleh seorang guru hingga mampu keduanya.

“Semoga yang kita lakukan selama ini dapat bernilai ibadah di sisi Allah SWT,”harapnya.

Pada kesempatan ini, ia juga mengingatkan tenaga pendidik agar mendidik murid dengan sebaik mungkin. Selain itu, meminta guru, selalu tepat waktu datang mengajar di sekolah.

Selain itu, meminta orang tua murid untuk membantu tenaga pendidik agar UPT SD Inpres 5/81 Timusu bisa lebih baik. Termasuk menjaga dan turut mendidik anaknya setelah pulang dari sekolah.

Menurutnya, keterlibatan orang tua murid dalam mendidik anak mereka di rumah sangat penting. Sebab waktu murid mendapatkan pendidikan di sekolah terbatas atau lebih singkat dibanding di rumah.

Keterlibatan orang tua mengawasi murid dari bahaya ngelem atau narkoba. Keterlibatan semua elemen harus selalu ditingkatkan dalam mencegah penyalahgunaan narkotika.

“Mari awasi bersama agar terhindari dari bahaya ngelem (isap lem) dan narkoba. Sebab saat ini bapak ibu sekalian, banyak yang bisa merusak generasi kita”, tandas Syarifuddin.**

Laporan : Abustan/A.Haris

Pos terkait