Luwu Utara metro-pendidikan.com — Pesatnya kemajuan teknologi digital dan dampaknya terhadap penyebaran informasi yang sangat cepat, muncul masalah tentang penyebaran informasi yang tidak relevan dengan fakta yang ada. Salah satu masalah utama adalah ketidakmampuan untuk literasi secara efektif, baik dalam menilai kredibilitas konten maupun memverifikasi sumber informasi.
Hal ini menjadi sebuah fenomena yang mengkhawatirkan mengingat Perkembangan teknologi yang pesat saat ini tidak hanya dapat menyebabkan masyarakat mengonsumsi informasi secara pasif, namun juga dapat berdampak jauh seperti gangguan psikologis dan ketertiban sosial di masyarakat.
Generasi z yang sejatinya menjadi tolok ukur perkembangan suatu bangsa nyatanya masih banyak yang tidak begitu memahami dalam menganalisis keabsahan suatu informasi yang beredar di masyarakat.
Tidak sampai di situ saja, aktifitas media sosial yang menjadi konsumsi wajib di kalangan masyarakat saat ini juga muncul fenomena-fenomena unik yakni berupaya menciptakan suatu definisi baru dengan versinya yang kemudian diikuti oleh mereka yang tidak begitu paham dengan apa yang sedang dibicarakan.
Kemajuan teknologi informasi yang memudahkan keluar dan masuknya suatu informasi mestinya juga berbanding lurus dengan kemampuan memfilter dan menganalisis kredibilitas dan validasi dari sebuah informasi.
Sebagai contoh, saat ini banyak video yang dibalut dengan narasi provokatif muncul di sosial media yang bahkan pembuatnya kita tidak tahu dari mana justru berhasil menarik perhatian sebagian generasi x (kelahiran 1965-1980) yang belum mengetahui serta belum memahami adanya pemanfaatan teknologi informasi yang disebut dengan Artificial Intelegensia (AI).
Lantas, apa yang harus dilakukan untuk meminimalisir hal seperti ini. Dikutip ada beberapa tips yang dapat membantu dalam memfilter setiap informasi yang kita terima yakni; (1) Kembangkan rasa penasaran (ingin tahu) setiap saat, jangan langsung menyebarkan suatu berita tanpa mengecek kebenarannya.
Menurut Tom Stafford, seorang psikolog dari The University of Sheffield kita mendapat banyak manfaat dengan menjadi lebih ingin tahu atau penasaran. Sementara itu, pendidikan zaman sekarang tidak banyak mencegah pemikiran masyarakat terbuka. Justru rasa penasaran terbukti ilmiah bisa membuka pemikiran lebih terbuka. Sehingga, kamu tidak buta hanya dengan satu ideologi saja;
(2) Berhati-hatilah dengan judul yang provokatif. Seringkali, narasi hoax tersaji di media sosial seperti FB punya judul yang mengundang sensasi, seperti bersifat menghasut atau provokatif. Bahkan, lebih bahaya lagi, terkadang isinya diambil dari media atau surat kabar resmi. Hanya saja, sedikit diubah agar sesuai dengan persepsi dari pembuat hoax.
Untuk itu, coba ambil koran untuk memastikan kebenaran. Bisa juga dengan membaca media berita yang ada. Dengan kredibilitasnya, sudah pasti media mengecek kebenarannya sebelum disiarkan ke khalayak ramai;
(3) Cari tahu keaslian alamat situs laman. Jika kita mendapatkan berita dari sebuah artikel, coba perhatikan tautannya. Apakah tautan tersebut berupa blog atau media berita asli. Jangan sampai terkecoh, kadang ada orang yang gak bertanggung jawab membuat berita bohong dengan menggunakan tautan yang mirip dengan media berita asli.
Dilansir dari Dewan Pers, di Indonesia terdapat lebih dari 43.000 situs yang mengklaim dirinya sebagai media berita. Namun, yang sudah terverifikasi gak sampai 300. Itu artinya, ada kemungkinan banyak berita bohong yang bisa beredar.
(4) Periksa keaslian berita dengan mencari tahu asal sumbernya (Pembuatnya). Sudah umum kalau berita dikuatkan dengan sumber. Biasanya kita akan melihat sumber, misalnya dari polisi atau KPK. Kita bisa mengecek dan membandingkannya dari siaran pers langsung atau dari media berita yang muncul saat itu. **Fikar Muhasbin/Pegiat Media Mainstream & Media Sosial






