Makassar.metro-pendidikan.com Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Makassar Dr H. Muhammad, S.Ag., M.Ag menegaskan bahwa pendidikan agama memiliki peran strategis dalam menciptakan kehidupan masyarakat yang toleran, damai, harmonis di tengah keberagaman etnis (suku) dan budaya serta agama.
Hal tersebut disampaikan saat menjadi narasumber dalam program dialog interaktif Titian Ilahi bersama Host Arfan Yusri yang disiarkan langsung dari Studio Pro 1 RRI Makassar di Jalan Riburane Nomor 3 Makassar, Jumat (08/05/2026) kemarin.
Kegiatan tersebut juga disaksikan masyarakat melalui siaran live streaming dengan tema “Peran Strategis Pendidikan Agama Dalam Menciptakan Kehidupan Yang Toleransi.”
Dalam dialog tersebut, H. Muhammad menjelaskan bahwa nilai toleransi harus dimulai dari cara memandang sesama manusia tanpa membedakan latar belakang agama maupun keyakinan. “Ketika kita bertetangga dengan umat Katolik, Buddha, Hindu, maupun agama lainnya, kita harus saling memberikan hal positif. Hidup bertoleransi itu harus menjadi kebiasaan dalam kehidupan masyarakat,” ujar Ketua Umum BPC Ikatan Alumni Fakultas Ushuluddin & Filsafat, UIN Alauddin Makassar.
Ia menyampaikan bahwa pendidikan toleransi saat ini telah masuk dalam kurikulum pendidikan agama di sekolah umum maupun madrasah melalui penguatan moderasi beragama dan kurikulum berbasis cinta.
Dalam pandangan dia, pendidikan toleransi tidak cukup hanya diajarkan secara teori, tetapi harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari melalui pembiasaan sikap saling menghargai dan menghormati perbedaan. “Anak-anak sekarang tidak hanya belajar teori, tetapi sudah diajak mengaplikasikan nilai toleransi melalui kunjungan ke rumah ibadah agama lain, berdialog, dan saling bertukar pengalaman,” jelasnya.
H. Muhammad juga mengungkapkan, Kota Makassar mengalami peningkatan signifikan dalam indeks toleransi nasional. Berdasarkan survei SETARA Institute, Makassar yang sebelumnya berada di peringkat 52 kota intoleran, kini berhasil naik ke posisi 9 nasional sebagai kota besar toleran dengan jumlah penduduk di atas satu juta jiwa.
Menurutnya, capaian tersebut tidak lepas dari komitmen pemerintah daerah, tokoh agama, dan masyarakat dalam menjaga kerukunan umat beragama“Wali Kota Makassar bersama seluruh unsur masyarakat terus memperkuat ruang-ruang toleransi, termasuk menghadiri kegiatan lintas agama dan meresmikan rumah ibadah. Ini menjadi bukti bahwa Makassar adalah kota yang menjunjung tinggi keberagaman,” katanya.
Dalam kesempatan itu, H. Muhammad menegaskan bahwa tantangan terbesar saat ini berasal dari pengaruh dunia digital yang dapat dengan mudah menyebarkan paham intoleransi, radikalisme, maupun informasi negatif kepada masyarakat dan generasi muda.
Merespon hal itu, sebutnya, Kementerian Agama Kota Makassar memperluas konsep pendidikan tidak hanya pada pendidikan formal dan informal, tetapi juga pendidikan digital sebagai bagian penting dalam pembentukan karakter anak. “Sekarang pendidikan itu tidak hanya formal dan informal, tetapi juga ruang digital. Orang tua tidak boleh melepas tanggung jawab pendidikan anak sepenuhnya kepada sekolah”, ucap mantan aktivis mahasiswa UIN Alauddin Makassar
Sebagai langkah konkret memperkuat toleransi di masyarakat, Kemenag Kota Makassar bersama Kesbangpol Kota Makassar dan FKUB telah meluncurkan program Kelurahan Sadar Kerukunan di 10 kelurahan.
Program tersebut bertujuan membangun kesadaran masyarakat agar mampu menyelesaikan persoalan sosial dan keagamaan secara kekeluargaan tanpa konflik maupun kekerasan.
“Kelurahan sadar kerukunan ini menjadi ruang pendidikan sosial masyarakat agar persoalan yang muncul bisa diselesaikan secara damai dan kekeluargaan,” ungkapnya.
H. Muhammad juga mengajak para tokoh agama, guru agama, penyuluh agama, dan pengurus rumah ibadah untuk terus mengoptimalkan pembinaan kepada masyarakat dalam menjaga nilai-nilai toleransi dan menangkal paham radikalisme.
Menurutnya, rumah ibadah harus menjadi pusat edukasi perdamaian dan penguatan nilai moderasi beragama bagi seluruh lapisan masyarakat“Kita tidak boleh mudah terpengaruh informasi negatif di media sosial. Semua harus disaring dengan baik. Peran tokoh agama sangat penting untuk menjaga masyarakat tetap damai dan tidak terpapar paham radikal,” pungkasnya.
Melalui dialog interaktif tersebut, doktor jebolan UMI Makassar ini, Kementerian Agama Kota Makassar berharap masyarakat semakin memahami pentingnya pendidikan agama yang moderat sebagai fondasi utama dalam menjaga persatuan, kerukunan, dan kedamaian di Kota Makassar. ***ril***
Laporan : Darwis Jamal






