Luwu Utara, metro-pendidikan.com – Di balik semangat belajar 125 siswa yang tak pernah padam, tersimpan potret buram dunia pendidikan di pelosok Luwu Utara
Adalah UPT SDN 016 Tinimpong, yang terletak di Desa Buntu Terpedo, Kecamatan Sabbang, Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan. Sekolah dengan 15 orang guru dan tenaga kependidikan ini kini berada dalam kondisi yang sangat memprihatinkan dan butuh perhatian serius dari pemerintah.
Pantauan media ini di lapangan, dari 6 Rombongan Belajar (Rombel) yang ada, tidak ada satu pun mobiler yang layak pakai. Meja dan kursi yang digunakan siswa saat ini hanyalah hasil tambal sulam seadanya. Banyak kursi yang sudah tidak memiliki sandaran, kakinya patah bahkan hilang, sehingga siswa harus menopang tubuhnya seharian untuk tetap bisa menulis.
“Meski kondisinya begini, anak-anak tetap semangat datang sekolah,” tutur salah seorang guru dengan tatapan penu harap.
Kerusakan tidak hanya pada mobiler. Gedung sekolah yang sudah berusia kurang lebih 25 tahun itu juga mengalami kerusakan di mana-mana. Daun pintu kelas banyak yang jebol, plafon terbuka dan menganga, bahkan lantainya pun hingga kini belum pernah tersentuh keramik.

Menurut Kepala UPT SDN 016 Tinimpong, Rustiawan Luther, S.Pd., pihaknya sudah berulang kali mengajukan permohonan bantuan.
“Kami terus berupaya memperbaiki mobiler yang masih bisa digunakan. Tapi yang sudah rusak parah, kami sudah tidak bisa lagi perbaiki karena kakinya sudah tidak utuh lagi. Gedung ini memang sudah lama dan tidak pernah mendapat bantuan,” ungkap Rustiawan.
Ia menambahkan, sudah 4 kali pergantian kepala sekolah di SDN 016 Tinimpong, dan semuanya sudah mengajukan proposal bantuan, namun hingga kini belum ada respons.
“Semua proposal kami nihil,” katanya lirih.
Penderitaan siswa semakin lengkap dengan minimnya fasilitas sanitasi. Sekolah hanya memiliki 1 unit WC yang harus digunakan bersama antara guru dan 125 siswa.
Akibatnya, tak jarang siswa terpaksa buang air sembarangan karena tidak tahan mengantri. Bahkan, ada siswa yang sampai buang air besar di celana karena tidak bisa menahan lagi.
Diperparah lagi, sekolah tidak memiliki pagar keliling. Keamanan sekolah tidak terjaga, anak-anak bebas keluar masuk, dan banyak alat sekolah yang rusak bahkan hilang.
Kepala Sekolah berharap ada keajaiban dari dinas terkait.
“Kami berharap dinas terkait bisa memberikan bantuan, terutama pagar dan mobiler. Supaya sekolah kami bisa aman dan anak-anak bisa belajar dengan layak dan nyaman,” harap Rustiawan Luther.
Semangat 125 siswa di tinimpong Desa Buntu Terpedo ini seharusnya tidak dibiarkan berjuang sendirian di atas kursi-kursi reyot.
*Laporan: Ali Hidayat*






